Rabu, 26 Oktober 2016

Genap Usiaku Sembilan Bulan

Hari berlalu dan aku semakin menunjukkan perkembangan yang baik, aku bisa menghibur diri sendiri dengan bertepuk tangan tanpa bimbingan lagi. Begitu ada yang menyenangkan hatiku maka aku spontan bertepuk tangan sambil tersenyum geli atau hingga tertawa lebar. Di bulan ini aku juga mengalami momen pertama kali jatuh dari tempat tidur, hanya sepersekian detik lepas dari pengawasan kedua orangtuaku aku pun terjatuh dari tempat tidur yang hampir setinggi 80 cm dengan posisi kepala terlebih dahulu, aku menangis hebat namun tidak mengalami memar apa-apa. Ini adalah hal unik bagi semua bayi, menurut orang-orang selalu ada malaikat pelindung bagi bayi yang jatuh dari tempat tidur. Oleh karena kejadian tersebut ayahku akhir memangkas tempat tidur menjadi lebih pendek dengan mengeluarkan dasar tepat tidur.

Kadang aku sering menunjukan ekspresi marah besar, dan sekali marah teramat besar hingga membuat kedua orang tuaku termenung bahwa aku ternyata juga bisa marah diusiaku yang sangat muda, bukan karena tangisan tetapi seperti ada sesuatu yang membuatku marah, entahlah. Di bulan ini aku juga dihadiahi beberapa oleh-oleh dari ayahku sepulangnya dari tugas perjalanan dinas, berupa baju bali, mainan mobil tawon yang bisa jungkir balik, bola ikan air yang mengeluarkan cahaya dan mainan ring donat. Untuk hal mainan, sepertinya aku orang yang cepat bosan, hanya sejenak menyukai mainan dan selanjutnya tidak menyukainya lagi. Demikian juga dengan boneka-bonekaku.


Di bulan yang lalu aku cuma memiliki sebuah gigi, sekarang aku sudah memiliki 5 buah gigi, dua gigi seri bagian bawah dengan tiga gigi seri bagian atas, dua di bagian tengah dan satu di sisi kanan. Sebelum tumbuhnya empat gigi di bulan ini, eskalasi emosiku cukup meninggi, seperti ditunjukkan dengan kegelisahan yang tak henti-hentinya. Demikian juga aku sering mengemeretakan gigi-gigi mungilku, yang seolah menjadi suara masam bagi orang tuaku. Kemampuan bicaraku juga sudah meningkat, kata-kata seperti mama, bapa, tata dan nene sering aku keluarkan baik dalam keadaan sedih dan senang, terutama panggilan mama yang semakin kuat dan jelas, kala ibuku tidak terlihat oleh pandanganku entah itu ibu sedang di dapur, kamar mandi atau pergi menjemur pakaian. Karena kami hanya tinggal bertiga, maka di saat kedua orang tuaku solat maka aku senantiasa menganggu mereka dengan tangisku atau juga kelucuanku dari berguling-guling di sajadah seolah meminta perhatian hingga memanjat tubuh ayahku ketika itidal, ruku, sujud dan duduk diantara dua sujud, bahkan berusaha melewati kolong kedua kaki ayahku.

Ketika kemampuan duduk sudah aku miliki sekarang giliran kemampuan berdiri yang sedang aku kembangkan, aku sudah bisa berdiri dengan berpegangan pada meja atau lemari. Bukan cuman berdiri aku juga sudah bisa berjalan sambil perpegangan dari satu sudut tempat tidur yang sudah dipendekkan, ke satu sudut tempat tidur lainnya. Di saat ini juga ayah dan ibu sering mengajarkan aku cara berjalan sambil berpegangan tangan. Aku juga sudah bisa melakukan gerakan cepat dari duduk ke berdiri sambil berpegangan atau sebaliknya dari berdiri ke duduk. Di samping itu aku juga sudah menjadi peniru yang baik, bisa melakukan suara-suara dan gaya mulut ayah ibu dari yang aku lihat, seperti menyembur udara dengan bibir yang tertutup rapat.



Satu hal lagi bahwa aku suka melihat pemandangan melalui jendela kamar, sehingga berdiri di depan jendela sangat menyenangkan hatiku. Selain di jendela, duduk dan berdiri di depan kaca meja rias sangat menyenangkan hatiku juga. Aku gemar memainkan peralatan apa saja di depan meja rias. Memang semua benda itu menarik bagiku dari sisir ibu hingga kaos kaki ayah, dari lembaran kertas hingga remote tv, dari botol air mineral hingga buku, dari sendok rice cooker hingga alat kosmetik, semuanya bisa aku raih. Di bulan-bulan awal ini, aku memang tipikal posesif terhadap benda-benda tersebut, aku bahkan menginginkan begitu banyak barang yang aku ingin mengenggamnya. Kadang aku terlihat masih mengenggam barang apapun saat aku masih digendong pergi. Buku adalah salah satu benda yang paling aku sukai, sepertinya akan mengikuti jejak ayah yang sangat menyukai buku dan kelak menjadi seorang yang mengemari buku. Jika aku telah menemukan buku, maka niscaya aku sudah ngomong sendirian, seakan sedang bertutur tentang sesuatu hal. Dan hal terakhir, di saat Kota Kupang memasuki musim penghujan aku sangat mengagumi hujan, bahkan petir yang datang bukan menakutkan aku tapi justru membuatku kegirangan. (*)

Kupang, 26 Oktober 2016
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;