Kamis, 26 Mei 2016

Di Bulan ke Empat


Waktu memang bergulir cepat, usiaku sudah empat bulan. Di saat rambutku mulai memanjang, yang kadang suka memelintirnya di saat menyusu. Tanganku semakin kuat mencengkram dan bisa memegang mainan-mainanku. Kuku-kuku jemariku cepat sekali memanjang, hingga ayah ibuku harus hati-hati untuk memotongnya menjadi pendek, karena bisa saja melukai wajahku sendiri atau menyakiti ayah ibuku. Kini aku tidak lagi serius menghitung jari jemari tetapii lebih suka menguncangkannya kuat-kuat seperti orang dewasa yang baru habis menyelesaikan pekerjaan besar. Kini tanganku juga sudah meraih jemari kaki-kakiku, mengengam erat dan ingin meariknya lebih kuat lagi. Jari-jemariku juga sudah ingin menjelajah merasakan berbagai tekstur ferlak kasur hingga apa yang berhasil aku raih.

comments
Selasa, 10 Mei 2016

Masih Suramnya Wajah Perempuan dan Anak Di Provinsi Nusa Tenggara Timur


Pembangunan di berbagai bidang sejatinya ditujukan untuk seluruh penduduk, tanpa membedakan laki-laki atau perempuan. Pada kenyataannya hasil pembangunan belum dirasakan sama antara laki-laki dan perempuan, demikian juga dengan aspek pembangunan yang belum menyentuh kebutuhan anak. Di sisi lain berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka meningkatkan kesetaraan dan keadilan Gender serta pemenuhan hak anak. Sebagai gambaran data, keadaan penduduk tahun 2014 menunjukkan bahwa secara umum penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Persentase penduduk perempuan sebesar 50,45 persen sedangkan laki-laki sebesar 49,55 persen. Sex ratio penduduk Nusa Tenggara Timur sebesar 98,23, artinya dari setiap 100 penduduk perempuan terdapat 98 penduduk laki-laki.

comments
Selasa, 03 Mei 2016

Profil Gender dan Anak Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015

Permasalahaan mendasar pembangunan adalah belum tersentuhnya hasil pembangunan ke kelompok-kelompok masyarakat yang membutuhkan. Karena memiliki daya tawar yang rendah maka kelompok ini sering terabaikan dalam pembangunan. Kelompok rentan ini meliputi penduduk miskin, penduduk penyandang cacat, penduduk wilayah terpencil, penduduk usia lanjut, petani, nelayan dan sebagainya. Dalam kelompok-kelompok tersebut perempuan dan anak adalah kelompok terbesar yang seharusnya juga mendapatkan perhatian. Atas dasar tersebut kesetaraan Gender telah menjadi perhatian dan menjadi salah satu strategi pembangunan nasional. Namun hal ini perlu ditunjang dengan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan Pengarusutamaan Gender antar kementerian dan lembaga, antar-tingkat pemerintahan hingga antar-kewilayahan. Sehingga koordinasi sangat diperlukan dalam terutama dalam menyusun Program dan kegiatan yang memberikan manfaat kepada kelompok perempuan dan laki-laki.

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


 
;