Jumat, 17 Juli 2015

Khotbah Sastrawi



Sebagai muslim kita sudah terbiasa mendengar khotbah di hampir setiap jumatan, tarawih atau hari raya. Namun pertanyaannya, apakah semua khotbah itu memberikan pengaruh pada sanubari kita sebagai pendengar. Sebagai jamaah sholat, kita punya ribuan kali pengalaman mendengarkan ceramah khotbah dari para khatib, dan ribuan kali juga kita mempunyai kesempatan untuk menilai apakah ceramah itu berkesan atau tidak. Tak jarang sebagai jamaah kita tak menangkap sepatah katapun yang diucapkan khatib. Begitu banyak hal yang masuk dalam pikiran kita dan menganggu, sehingga tubuh kita berada di mesjid namun jiwa kita seolah terbang ke permasalahan hidup yang belum terselesaikan di luar sana. Ibarat masuk telinga kiri keluar lagi telinga kanan. Kadang banyak jamaah yang tertidur karena ceramah khatib yang dingin, sehingga muncul penilaian bahwa sesi ceramah hanya membuang waktu para jamaah yang telah rela meninggalkan kesibukannya. Padahal sesungguhnya khotbah adalah syarat sahnya solat jumatan dan pelengkap ibadah solat lainnya, bahkan ada yang menilai jika jamaah tidak mendengarkan khotbah dengan baik akan dianggap kelalaian dan bisa diganjar dosa.

comments
Sabtu, 04 Juli 2015

Polisi Sampah


Latar belakang novel ini bercerita tentang petualangan Simonov Sinesky bersama Malaikat Jibrael mengunjungi sebuah institusi kepolisian di negeri tak bernama. Kisah novel ini menguak perbuatan polisi-polisi di negeri antah berantah yang tak lagi memiliki nilai-nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan, dimana sudah banyak oknum kepolisian yang telah bersekutu dengan pelaku kejahatan. Simon Sinesky bersama tokoh imajiner yang diwakili sebagai Malaikat Jibril datang menginvestigasi dan melakukan penyelidikan terhadap polisi-polisi di suatu negeri antah berantah. Dimulai dari polisi berpangkat rendah brigadir hingga perwira tinggi jenderal. Investigasi ini dilakukan berdasarkan buku dosa yang telah dicatat, karena bagaimanapun sebagai mahluk beriman segala amal kebaikan beserta dosa-dosa sudah dicatat untuk dipertangungjawabkan di kemudian hari.

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Kolam Inspirasi

 
;