Selasa, 27 Oktober 2015

Tragedi Terbakarnya Bemo Ridho Galih di Kupang 17 Mei 1978


Jam menunjukan pukul 7.00 wita pagi hari. Seperti biasanya masyarakat Kota Kupang memulai aktivitasnya, pergi ke pasar, tempat kerja hingga ke sekolah. Dan seperti biasa pula masyarakat kota menggunakan sarana masing-masing menuju tempat tujuan, jika dekat ada yang berjalan kaki, ada yang menggunakan kendaraan pribadi atau menggunakan transportasi umum. Bagi yang menggunakan transportasi umum akan menggunakan angkutan bemo model mikrolet tipe Pick Up dengan pintu penumpang berada di bagian belakang kendaraan. Di tahun 70-an ongkos dalam kota jauh dekat masih sebesar Rp. 25,- saja dan keadaan Kota Kupang saat itu masih lengang, tak banyak kendaraan dan suasana tidak seramai saat ini.

Sebuah kendaraan angkutan bemo mikrolet tipe Colt Pick Up bernama Ridho Galih yang merupakan salah satu sarana transportasi umum yang femiliier digunakan warga kota, sedang menjalani trayek pagi itu menghubungkan Terminal Kota Lama ke Oebobo hingga Oepura. Bemo yang melaju dikendalikan oleh supir bernama Om Tinus ini, dari arah Kupang kondisi bemo sudah sesak dengan keranjang belanjaan penumpang sehabis dari pasar, beserta beberapa penumpang lainnya yang kebanyakan adalah anak sekolah. Kebetulan di simpang Kantor Bank Indonesia ada seorang kondektur (konjak) mikrolet lainnya ikut menumpang Bemo Ridho Galih dengan membawa satu jerigen bensin yang baru dibelinya dari Pompa Bensin Cempaka Lama. Jerigen berisi bensin ditaruh dalam kabin bemo, sementara itu tanpa diperkirakan sebelumnya, seorang penumpang ingin membakar sebatang rokok. Namun tanpa disangka percikan korek api mengenai jerigen berisi bensin tersebut, dan akhirnya api menjalar dan membakar bemo.

Tepat di jalan depan SMP Negeri 2 Kupang, bemo Ridho Galih kandas dan akhirnya terbakar habis. Banyak korban yang mengalami luka bakar, barang penumpang yang bertumpuk menghalangi korban menyelamatkan diri lebih awal. Korban yang berhasil menyelematkan diri keluar dari bemo yang terbakar, di tolong oleh warga Kampung Baru di sekitaran lokasi kejadian. Ada yang berusaha menolong korban dengan air yang diambil dari perigi terdekat, ada juga yang mengambil lembaran daun dari pohon pisang untuk memadamkan api di tubuh korban.

Korban luka bakar diantaranya Tinnyke Nggebu, Afia Salama, Johny Abubakar, Maneke Latuperisa, Mikael Thayeb, Hengky Malada serta beberapa orang lainnya, dan kabarnya ada juga yang menjadi korban meninggal dunia karena luka bakarnya. Korban diantaranya adalah Siswa SMA 173  (sekarang SMA 1 Kupang) yang sedang menuju sekolah dan berasal dari Kampung Bonipoi dan Fontein. Sementara itu beberapa orang yang selamat karena turun dari bemo sebelum kejadian. Akibat kejadian tersebut banyak yang harus menjalani perawatan opname di rumah sakit bahkan hingga dua bulan lamanya. Kini hampir empat dekade telah berlalu, di antara korban yang mengalami tragedi tersebut masih ada yang memakai sarung tangan untuk menutup bekas lukanya.

Di masa belum adanya media massa representatif dan media sosial seperti saat ini, kejadian tersebut menjadi berita yang gempar di Kota Kupang kala itu. Menjadi kenangan terburuk tak terlupakan bagi korban, demikian juga bagi mereka yang mendengar informasi, datang menyaksikan dan terlebih bagi mereka yang saudara atau teman yang mengalami korban akibat terbakarnya bemo ini. Bahkan ada yang mengalami trauma pasca kejadian, bukan hanya bagi korban tetapi yang menyaksikan juga mengalami trauma. Ada yang enggan naik bemo lagi, ada juga yang melihat kobaran api sudah merasakan ketakutan. Inilah tragedi kebakaran bemo di Kota Kupang yang paling banyak membawa korban luka bakar dan membawa kenangan bagi Bemo Ridho Galih yang pemyimpan banyak cerita bagi anak-anak sekolahan saat itu, dan tentunya menjadi pelajaran bagi generasi sekarang, bagaimana pentingnya keselamatan dalam berkendara umum. (*)

Foto Dokumentasi Keluarga Uly &
Sumber cerita berasal dari Timeline FB Nicky Nicko

Kupang, 27 Oktober 2015
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;