Senin, 29 September 2014

Cerita Marmut dari Mongolia


Photo: en.wikipedia.org

Saya kebetulan sedang membaca buku biografi Jenghis Khan karya John Man, dan di saat bersamaan juga, saya menonton film Warrior Princess (Queen Ahno). Dari buku dan film tersebut saya mendapat gambaran tentang kehidupan dan kebudayaan Mongolia dengan bentangan geografis wilayah Mongolia yang sangat luas, stepa di mana-mana. Kadang kita mendapatkan kejadian seperti ini, mendapatkan satu cerita yang sama dari beberapa sumber, tanpa di sengaja di waktu bersamaan. Namun saya tertarik dengan apa yang diulas John Man dalam bab awal bukunya, tentang salah satu hewan penting bagi kehidupan orang Mongolia. Selain kuda sebagai alat transportasi utama dan penyangga ekonomi, marmut atau sejenis hewan pengerat memiliki struktur penting bagi salah satu kebutuhan pangan orang Mongolia.

comments
Minggu, 14 September 2014

Menulis di taman



Momen menulis adalah waktu terbaik ketika kita mampu mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran dan menuangkan ke dalam tulisan. Apa yang keluar dari pikiran juga sangat tergantung dengan suasana hati di mana kita menulis. Kesempatan kali ini saya manfaatkan menulis di sebuah taman hotel saat hari baru menjelang, dengan matahari pagi yang hangat dan cerah. Taman hotel ini di disain sederhana dengan pepohonan seperti cemara, palem, puring, asoka dan kamboja, beserta beberapa patung hewan seperti kerbau, kuda, rusa, anjing, burung camar hingga ular piton. Ada juga patung-patung taman etnik khas daerah, dan tak lupa taman ini juga dilengkapi dengan kolam ikan. Suasana yang ada seakan membuat segar apa yang ada di pikiran dan tubuh.

comments
Rabu, 10 September 2014

Menempatkan Belis pada tempat seharusnya


Pagi ini dalam penerbangan, saya membaca tulisan opini di harian Victory News Kupang, oleh Isidorus Lilijawa S. Fil, MM, sebagai pemerhati permasalahaan sosial. Tema tulisan yang diangkat adalah tentang belis, dengan judul “Belis dan Martabat Manusia”, walau singkat tulisan ini sangat mencerdaskan dengan menempatkan belis pada tempat seharusnya. Hal yang dipaparkan adalah relevansi belis dalam nilai budaya dan dampak belis terhadap kekerasan terhadap kaum perempuan atau kekerasan dalam rumah tangga. Memang kajian tentang belis masih menjadi hal yang menarik. Sebagai catatan di Nusa Tenggara Timur, mahar atau mas kawin jamak disebut dengan belis.

comments
Minggu, 07 September 2014

Kisah Jiro dan Naoko dalam The Wind Rises


Pertama kali Horikoshi Jiro bertemu dengan Satomi Naoko, dalam sebuah perjalanan kereta menuju Tokyo. Karena hembusan angin topi Jiro lepas, namun bisa digapai oleh Naoko. Naoko tengah bersama dengan pembantunya, di saat bersamaan terjadi gempa bumi besar yang membuat kereta anjlok dan membuat kaki sang pembantu patah. Jiro menolong mereka hingga sampai di rumah Naoko. Sayangnya mereka belum sempat berkenalan, tetapi di saat itu telah hadir perasaan antara kedua insan itu, walau kala itu Naoko masih belia. Naoko menganggap Jiro bagai pangeran bagi dia dan pembantunya, yang datang dengan mengendarai kuda putih. Naoko berdoa suatu saat bisa dipertemukan kembali dengan sang pahlawan, Jiro. Naoko ingin bertemu langsung dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya di saat gempa terjadi. Demikian juga dengan Jiro yang rupanya telah jatuh cinta ketika Naoko mengapai topinya yang dihembus angin, dan Naoko telah mencintai Jiro sejak angin membawa kepadanya. Tanpa mereka saling mengetahui isi hati masing-masing.

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Kolam Inspirasi

 
;