Minggu, 17 Agustus 2014

Upacara Perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1960 di SoE - Timor Tengah Selatan




Upacara kemerdekaan Republik Indonesia pertama kali digelar pada tanggal 17 Agustus 1945, dikediaman Soekarno, Jalan Pengangsaan Timur 56, Jakarta. Kegiatan berupa pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, kenaikan bendera dan nyanyian lagu Indonesia Raya telah menjadi tradisi yang hingga kini terus dirayakan setiap tahunnya di seluruh penjuru tanah air. Saat ini upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia digelar di 3 tempat, yakni tingkat Kabupaten/Kota (Kantor Bupati/Walikota), Provinsi (Kantor Gubernur), dan Nasional (Istana Negara).

Timor Tengah Selatan sebagai Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terbentuk melalui Undang-Undang Nomor 69 tahun 1958, tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II dalam wilayah Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Setiap tahunnya juga menggelar upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satu perayaan itu sempat didokumentasikan oleh Colville Crowe yang adalah seorang misionaris Australia yang dipekerjakan oleh Methodist Chuch of Australia antara tahun 1956 hingga 1961 di SoE, Timor Barat. Momen perayaan kemerdekaan di SoE tahun 1960, yang diabadikan dalam 3 foto ini sejak tahun 2010 telah di hibahkan ke Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV).



Pada foto koleksi Colville Crowe itu masih memperlihatkan kesederhanaan dalam perayaan kemerdekaan RI, namun tanpa melupakan urgensi dan semangat perayaan tersebut yang ditandai dengan suasana khidmat dan semarak bendera-bendera kecil yang dikibarkan oleh peserta upacara yang kebanyakan adalah anak-anak dan remaja. Jika dilihat dari waktu dan saksi sejarah yang adalah anak-anak dan remaja dalam foto ini, maka dipastikan banyak dari mereka masih hidup, yang kini telah berusia sekitar 60 hingga 70-an tahun. Sungguh telah menjadi sebuah kenangan tentunya.

Upacara perayaan kemerdekaan RI di SoE pada tahun 1960 itu, terjadi tepat pada masa peralihan Swapraja menjadi Kabupaten (1958-1960) atau lebih tepatnya 54 tahun yang lalu. Jauh sebelum terbentuknya organisasi dan istilah Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pada tahun 1968, yang bertugas sebagai pengibar bendera pada upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak tahun 1969, anggotanya ditentukan berasal dari pelajar SLTA se-tanah air Indonesia yang merupakan utusan dari seleksi setiap sekolah untuk tingkat kabupaten/kota, tiap kabupaten/kota untuk tingkat provinsi dan tiap provinsi untuk tingkat nasional, dan tiap utusan untuk provinsi dan nasional diwakili oleh sepasang remaja. 

Gagasan pembentukan Paskibraka ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1946, tepat satu tahun perayaan kemerdekaan. Bahwa pengibaran bendera pusaka seharusnya dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, sebagai simbol keterwakilan generasi penerus perjuangan bangsa dari setiap daerah. Baru setelah di akhir tahun 60-an, ide tersebut terlaksana, dengan konsep yang seperti saat ini dilaksanakan. Dalam formasi pengibaran yang menjadi 3 kelompok dan dinamai sesuai dengan jumlah anggotanya, yaitu: Kelompok 17 sebagai pengiring (pemandu), Kelompok 8 sebagai pembawa (inti), dan Kelompok 45 sebagai pengawal, sehingga sesuai dengan format tanggal Proklamasi kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. (*)


Kupang, 17 Agustus 2014
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;