Selasa, 11 Desember 2012

Menyeberang ke Pulau Libukang Kab. Jeneponto SULSEL


Pulau Libukang (Geogle earth)

Sebagai bagian dari aplikasi materi Diklat Fungsional Penjenjangan Perencana (DFPP) Muda Angkatan XI Pusdiklatren – Bappenas dan Pusat Penelitian Pengembangan Kebijakan dan Manajemen (P3KM) Unhas Makassar 2012, maka kami melakukan Orientasi Lapangan (OL) di Pulau Libukang. Kegiatan ini untuk melihat sejauh mana pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan di Pulau Libukang. Perjalanan di mulai dari Kota Makassar ke Kabupaten Jeneponto sekitar dua jam perjalanan. kemudian dilanjutkan dengan menyeberang ke Pulau Libukang menggunakan perahu yang berjarak  ± 500 meter dalam waktu 15 menit. Nama Pulau Libukang juga sama dengan nama sebuah pulau di Palopo yang juga berada di Sulawesi Selatan bagian utara.

Pulau Libukang atau masyarakat setempat menyebutnya dengan Pulau Harapan. Berada dalam Teluk Mallasoro, yang terletak di Dusun Palameang, Kelurahan Bontorannu, kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto dengan koordinat 2° 57’51”S, 120°12’2”E. Luas wilayah Pulau Libukang ± 5 km² dengan keliling ± 1,8 kilometer atau dapat ditempuh berjalan kaki mengelilingi pulau selama sejam. Pulau ini berpenduduk 116 jiwa yang terdiri dari 68 Kepala Keluarga yang menempati 58 rumah. Terdapat dua atau tiga KK dalam satu rumah yang mana bagi KK baru yang belum mampu membangun rumah biasanya menempati bagian bawah rumah induk yang berbentuk rumah panggung tradisonal masyarakat Bugis Makassar. Seluruh penduduk di pulau ini memeluk agama Islam.


Rumah tempat kami bermalam

Rumah dengan dua Kepala keluarga atau lebih

Penduduk Pulau Libukang dengan karakter masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada hasil laut sehingga bermata pencaharian sebagai nelayan dan budidaya rumput laut. Alat tangkap yang dipergunakan terdiri atas keramba apung, keramba tancap, bagan tancap, serta jaring penangkap pasif Set Net. Di areal laut sekitar pulau terdapat banyak pelampung yang mengapung dengan bentangan-bentanagan tali, ini dipergunakan sebagai pengembangan rumput laut. Bagi masyarakat rumput laut menjadi mata pencaharian utama, dimana harga jual rumput laut yang kering lebih mahal di bandingkan rumput laut basah.

Sarapan pagi kami

Makan siang kami

Pulau memiliki sarana sanitasi yang terbatas seperti 2 fasilitas WC umum, 3 sumur yang airnya terasa payau yang hanya digunakan untuk keperluan mandi dan mencuci., sedangkan sumber air tawar diperoleh dengan menyeberang ke Kassi (salah satu sumber yang ada di Jeneponto) untuk mengambil air minum selain itu juga masyarakat memperoleh air tawar dengan menampung air hujan. Sedangkan WC yang ada lebih banyak digunakan para tamu dari luar pulau, masyarakat lebih memilih buang air besar secara tradisional di pinggir pantai. Pulau Libukang Juga terdapat sebuah mesjid sebagai sarana peribadatan dan sebuah fasilitas SD bagi anak-anak usia sekolah di Pulau Libukang, namun seluruh pangajar berasal dari luar pulau, sehingga jika terjadi gelombang besar seluruh guru tidak datang untuk mengajar, bagi yang ingin melanjutkan ke jenjang SLTP harus menyebrang ke daerah Biring Kassi dengan mengandalkan perahu nelayan. Sedangkan untuk sarana kesehatan di pulau ini belum tersedia, hanya sesekali petugas kesehatan dari puskesmas kecamatan memberikan pelayanan kesehatan. Infrastruktur lainnya yang terbangun di pulau ini adalah jalan setapak yang di semen dalam kondisi baik dan beberapa tangggul pemecah ombak yang terlihat rusak berat akibat abrasi pantai.




Pulau ini tidak memiliki mangrove di sekeliling pantai sehingga pantai cendrung mengalami abrasi. Pola permukiman penduduk terletak di sisi barat pulau sedangkan di sebelah timur lebih banyak dijadikan kebun yang dimanfaatkan oleh masyarakat dengan menanam singkong, sayuran, daun kemangi, pisang dan mangga. Sumber penghidupan masyarakat selain dari penangkapan ikan dan rumput laut juga bersumber dari ternak kambing dan itik. Kambing di Pulau ini terbilang unik karena dapat hidup hanya sekedar memakan sampah-sampah laut karena rumput jarang terdapat di pulau ini. Uniknya ciri khas keberadaan gentong air yang diletakkan di bawah tangga untuk membersihkan kaki dari pasir.

Dalam mendukung aktivitas melaut masing-masing rumah memiliki sebuah sampan selain juga digunakan sebagai sarana perhubungan menuju daratan Jeneponto. Pulau tidak memiliki pasar sehingga untuk berbelanja masyarakat harus menyeberang ke Biring Kassi selanjutnya ke Allu, ibu kota Kecamatan Bangkala. Di pulau ini mengandalkan penerangan  dari genset, yang mana setiap bulannya setiap KK membayar sejumlah uang untuk biaya listrik. Sebelumnya masyarakat menggunakan solar cell tenaga surya namun banyak yang mengalami kerusakan sehingga beralih ke penggunaan genset. Karena dekat dengan Jeneponto daratan, aksesibilitas ke pulau ini lancar, namun kendala lebih pada tibanya musim barat. Dalam bidang komunikasi pulau ini memiliki jaringan sinyal telekomunikasi sehingga memudahkan informasi dan komunikasi dapat terhubung dengan baik. Masyarakat Pulau Libukang juga telah menggunakan media komunikasi telepon seluler.




Sebagaimana masyarakat pesisir pulau yang mengusahakan rumput laut. Maka lahan laut yang luas mulai di kapling-kapling dengan memberi penanda berupa pelampung, hal ini berbeda dengan lahan daratan pulau yang hampir tidak memiliki batas-batas yang jelas. Pengelolaan lahan di laut cenderung bertambah dengan adanya masyarakat yang terus menambah luas kapling pengelolaan rumput laut. Sehingga diperlukan pengelolaan terhadap keberadaan lahan rumput laut. Rumput laut menjadi komoditi utama pulau yang mana KK pengelola dapat mengusahakan 300 – 1000 bentangan tali rumput laut. Bagi KK yang kurang memiliki tenaga untuk mengelola rumput laut dapat memanfaatkan jasa orang lain dengan sistem gaji. Dalam aspek sosial budaya, kapling lahan rumput laut juga dapat di jual beli dengan kisaran harga antara 1 – 3 juta, selain itu telah menjadi salah satu bentuk mahar (mas kawin) dalam proses lamaran perkawinan.




Dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat maka nelayan di Pulau Libukang, mulai menerapkan metode penangkapan ikan dengan jaring perangkap pasif atau (Set Net, teichi ami). Pulau Libukang dipilih menjadi lokasi Set Net karena sesuai dengan kebutuhan jaring perangkap. Teknologi dari Jepang ini merupakan alat tangkap yang sangat produktif memperoleh hasil tangkapan di wilayah pesisir, selain efisien dan ramah lingkungan, juga menghindari eksploitasi penangkapan ikan secara berlebihan. Jaring perangkap dipasang di daerah yang dilalui gerombolan ikan. Lokasi jaring perangkap ditempatkan sekitar 1,5 mil dari pantai dengan kedalaman 15-20 meter. 



Fungsi jaring perangkap adalah menahan laju ikan dan mengarahkannya masuk ke dalam kantong jaring. Teknik ini membantu nelayan menghemat bahan bakar solar, menghemat waktu dengan jarak yang dekat dan dapat mengendalikan jumlah ikan di laut lepas. Di samping itu ikan yang diperoleh memiliki tingkat kesegaran yang baik sehingga dapat meningkatkan nilai jual. Prinsip dan proses penangkapannya adalah dengan memanfaatkan tingkah laku ikan yang bermigrasi ke wilayah perairan pantai tanpa menggunakan alat bantu penangkapan ataupun umpan sebagai alat pemikat gerombolan ikan. Pemanfaatan tingkah laku ikan dalam merespon alat tangkap tidak hanya pada kelompok ikan-ikan pelagis, melainkan juga pada ikan-ikan pertengahan maupun ikan-ikan demersal.


Setelah berada semalam sehari di Pulau Libukang, kamipun kembali pulang menuju Makassar, sebuah pengalaman menyeberang ke sebuah pulau kecil yang terapung di Laut Flores. (*)

Libukang, 10-11 Desember 2012
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;