Kamis, 10 Mei 2018

Kosmologi Timor


Foto credit: EL Ghyzel Glenn

Raputasi besar keberadaan manusia di kehidupan ini adalah karena manusia memiliki akal pikiran. Dan akal yang menentukan sikap dan pola tingkah laku selanjutnya dan kemudian menjadi pandangan yang harus ditempuhnya. Masyarakat Timor sebagai entitas awal penghuni pulau Timor telah memiliki keakraban dengan pandangan khusus tentang alam semesta, tentang kosmos. Inilah menjadi dasar awal pandangan dan penilaian terhadap kosmos. Relasi pola hubungan dasar ini yang dibangun dalam sebuah tata tertib kosmos dan membentuk pola berpikir kosmis, di mana manusia hanyalah sebuah bagian kecil dari alam semesta ini, atau sebagai pelengkap kosmos yang terletak menetap dalam peredaran di raya ini.

Kalau manusia sebagai perpaduan antara ruh dan fisik dalam alam raya ini, melenceng dari garis edarnya maka akan terjadi ketidakseimbangan kosmis. Karena ada yang saling berbenturan, untuk itu manusia sebagai pemilik akal dan pengendali mampu merawat kosmos ini terus berada dalam keseimbangannya. Keyakinan ini sudah ada sebelum agama-agama besar masuk di Pulau Timor. Masyarakat adat yang terus menjaga tradisi adalah untuk menetapkan bahwa kosmoslogi tetap terjaga dan terus dalam peredaran yang telah ditentukan. Masyarakat yang terus menjaga tradisi adalah masyarakat adat yang berkeyakinan bahwa tiap bagian dalam alam semesta ini merupakan bagian-bagian dari suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Bila satu bagian berubah sedikit saja, maka mengancam keberadaan subuah sistem besar ini.

Suku-suku bangsa di Pulau Timor menyadari bahwa kehidupan manusia harus disesuaikan dengan tertib keseluruhan alam raya, kalau ingin mengelola alam ini maka harus ada tata tertib yang dilakukan dan tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Inilah yang kemudian dinamakan kesimbangan berhubungan dengan kekuatan-kekuatan yang ada di langit dan bumi. Tidak mengherankan jika masyarakat adat ingin melakukan sesuatu perubahan pada alamnya maka perlu dilakukan upacara adat, untuk menghormati alam tersebut. Diambilnya sesuatu dari alam dengan tidak berlebihan dan tetap menjaga kelestariannya atau keseimbanganya.

Dalam tradisi msyarakat Timor, raja sebagai pemimpin adalah perwujudan kekuatan langit dan bumi. Hal ini tercermin dari hiasan yang dikenakan seorang raja, seperti belak (matahari), kaibauk (bulan) dan morten (bintang). Sebagai gabungan relasi antara kekuatan langit dan bumi, juga berlaku antara hubungan antara orang yang sudah mati dan orang yang masih hidup. Dua dunia yang dianggap berbeda tetapi tidak terpisahkan karena erat hubungannya. Karena keduanya saling melengkapi dan tetap dalam keseimbangannya. Demikian juga hiasan dan ornament yang memperindah rumah adat merupakan stilisasi bulan, bintang dan matahari. Benda-benda perkakas sehari-hari  dari pakaian, perhiasan sampai pedang dihiasi dengan pola hias bulan, bintang dan matahari.

Hubungan antara manusia yang masih hidup dengan yang sudah mati dalam wujud arwah menjadi suatu relasi yang mistis. Kesatuan keduanya terbina dalam pola tingkah laku tradisional berupa upaya manusia dalam rangka mengadakan kontak dengan para arwah lelulur atau nenek moyang. Mengadakan hubungan dengan para leluhur adalah sebuah kewajiban yang harus terus dilakanakan. Menurut kepercayaan, arwah leluhurlah yang mengisi kekuatan gaib yang ada di langit maupun di bumi. Bila mana hubungan ini putus, maka tidak ada yang memberi kekuatan gaib kepada manusia dalam menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam lingkungannya. Mereka beranggapan bahwa para arwah leluhur akan selalu mengawasi dan menghukum manusia dan keturnan-keturunannya yang berani melanggar keseimbangan antara manusia dengan alam lingkungan sekitarnya. Oleh karenanya ketika para petani mengelola lahan pertanian tanpa upacara, maka dia telah melakukan sesuatu yang dianggap sembarangan atau tidak tahu adat karena melakukan sesuatu tanpa upacara. Upacara adat dilakukan sebagai usaha untuk menetralkan ketidakseimbangan yang disebabkan oleh perbuatan manusia terhadap alam sekitarnya. Upacara juga sebagai media kontak antara para mereka yang masih hidup dengan para leluhurnya, dengan harapan meminta bantuan tenaga gaibnya. Sehingga relasi dengan alam adalah upaya dilakukan melalui upacara-upacara untuk mendapatkan hujan, sinar matahari hingga mendapatkan keturunan, kesehatan dan  kesejahteraan.

Selain upacara-upacara yang dilakukan, di samping itu untuk memelihara hubungan dengan para leluhur, maka nama-nama bayi yang baru lahir diberikan nama-nama nenek moyang, jika ada anak yang sering sakit maka nama yang disandangnya tidak cocok sehingga harus diganti dengan nama lain para leluhur. Ini menunjukkan bahwa pengambilan nama-nama para leluhur didasarkan pada keyakinan bahwa nenek moyang dapat mewujudkan kembali melalui  bayi-bayi yang baru lahir, sehingga ini bisa dikatakan bahwa ada pola reinkranansi bahwa hidup di dunia ini kekal, sedangkan kehidupan di akherat hanya bersifat sementara saja.

Orang Timor juga percaya bahwa ada mahluk-mahluk gaib yang mendiami tempat-tempat tertentu seperti hutan-hutan, mata air, sungai-sungai hingga pohon-pohon besar. Ada mahhluk yang bersifat baik dan jahat sebagai penjaga tempat-tempat yang didiaminya. Selain mendiami tempat-tempat tersebut mahluk gaib juga dianggap mempunyai pengaruh yang kuat terhadap jalan hidup manusia. Sehingga berbagai malapetaka, seperti sakit, sial dan kecelakaan datang dari mahluk gaib karena telah lalai dalam menjalankan ritual dengan memberikan persembahan misalnya. Jika terjadi demikian biasanya dipanggilkan seorang dukun untuk menemukan sumber dari terjadinya permasalahaan tersebut dan kemudian berusaha untuk menolakanya dengan menggunakan obat-obatan, ramuan, jimat dan mantra-mantra yang dianggap mampu untuk mengusir atau mengalahkan mahluk gaib tersebut. Kedatangan agama di pulau Timor mulai mendegradasikan kebudayaan tersebut. (*)

Kupang, 10 Mei 2018
@daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang pasti akan menuliskan apa ada yang ada di pikiran dan perasaannya.. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;