Minggu, 26 Maret 2017

14 Bulan Usiaku!

Kisahku bulan ini dimulai dengan bertandang ke kediaman teman ibuku, kebetulan mug yang biasa aku pakai untuk meminum ketinggalan. Kontan dalam dua hari kemudian aku menjadi rewel karena tak menemukan mug tersebut, karena benda yang sangat dekat dengan rasa hausku itu menghilang. Biasanya ketika aku haus, aku akan mencari mug-ku dan langsung meminumnya. Setelah berumur 1 tahun 2 bulan ini, aku mulai berlahan-lahan belajar menggunakan gelas, kadang tumpah hingga membanjiri baju dan celanaku. Caraku lainku unik yaitu meneteskan air dari mug bayi ke mug dewasa, dan kemudian meminum sedikit tetesan tersebut. Kalau urusan minum sesekali aku menunjukan bahwa aku menikmati minum air tawar dengan mengecap bibir berulang-ulang dan juga menunjukkan kelegaan sambil berucap “ahhhhh!”, karena rasa dahaga telah terpenuhi.

Di bulan ini aku telah kehilangan kucing yang kami sekeluarga memanggilnya Ucil. Kucing betina yang tidak kami pelihara, namun selalu datang meminta makan dari kami. Kucing yang memberi rasa iba karena kucing tersebut mengalami luka di hidung yang tak kunjung sembuh dan sepertinya mengakibatkan kematiannya yang entah jasadnya berada di mana. Kucing pertama yang aku kenal dan juga kucing pertama yang aku belajar mengusirnya ketika mendekat. Dan juga di saat bersamaan, kehilangan juga tetangga yang baik hati, bernama Mas Rahmat bersama isterinya yang sudah pindah, yang selama ini mengisi dunia sosialku dalam berinteraksi yang sering memberiku dodol.

sedang bermain dengan bayangan di Kantor Gubernur NTT terbaru

merangkak kesana kemari di Gedung Kantor Gubernur yang di softlaunching pada Desember 2016 lalu

efek visual yang seolah aku ingin mengambil pot yang terlihat kecil

Aku juga semakin semangat dalam bermain, kadang ketika bosan menonton maka aku segera mencari kantong mainanku dan mulai menghamburkannya. Susunan kertas buram dibawa rak tivi juga sering aku hamburkan seolah menjadi bagian dari kesenanganku. Suatu kali aku menghamburkan butiran mutiara untuk kue yang entah begaiaman cara aku mendapatkannya, dan rupanya aku menikmati suatu yang berserakan. Jam mainku terbentang dari pagi, siang, sore hingga tengah malam. Kadang mainanku yang berserakan itu baru dibereskan ibuku pagi harinya, karena beliau kadang tidur mendahului jam bermainku pada malam hari dan tentunya ayah jadi taruhannya.

Hingga kini memang ada beberapa hal yang membuat aku menjadi marah ketika keinginanku tidak terpenuhi. Ada beberapa benda yang sangat dilarang orangtuaku, terutama benda-benda seperti gelas kaca, botol kaca, pisau hingga benda-benda kecil lainnya yang berbahaya bagiku, yang kadang aku ingin memainkannya. Keinginan itu tidak dipenuhii maka aku akan menangis. Ada juga karena aku ingin bermain di luar ruangan di saat becek karena hujan, sudah pada malam hari atau menghindari tersentuhnya panasnya knalpot motor, namun dihalangi itu juga akan membuatku menangis. Ada juga karena aku ingin memakan di piring orangtuaku makanan yang belum layak aku konsumsi, tidak dipenuhi makan aku juga akan menangis. Atau juga kadang aku menangis tanpa diketahui sebabnya apa. Dari hal-hal seperti itu, dapat membuat aku sedikit menjerit, menangis terseduh-sedu, menangis terisak-isak bahkan hingga menangis sesenggukan. Untuk hal yang terakhir, dalam budaya ibuku ini menandakan bahwa aku akan menjadi orang yang pendendam, dan Insya Allah jangan, hanya di masa kecilku saja. Kadangkala berbagai rayuan belum bisa menghentikan gejolak tangisku, hingga ajakan mengedong yang biasa dapat menghentikan tangisku aku menolaknya, puncaknya ketika ajakan itu datang dari ayahku, aku menepisnya dengan cara menutup kedua tangan ayah. Butuh belaian dan kasih sayang penuh untuk bisa menenangkan aku yang menangis sedemikian. Bahkan satu kali terdengar oleh orangtuaku aku pernah menangis sesenggukan dalam tidur.

di depan Kantor Baru Bank Indonesia Kupang

kalau sedang main, sukanya berantakan

Karena ibu memang suka sekali makanan yang pedas dan hampir semua masakan dibawa racikannya pasti menyertakan cabe, kecuali kolak. Otomatis aku membawa gen penyuka makanan pedas. Seperti nasi goreng pedas yang terpaksa aku nikmati tandas juga akhirnya, mulanya rasa pedis itu membuat aku menangis untuk sepersekian detik, namun setelah minum aku kembali tertantang, caraku mensiasatinya adalah saat memakan nasi goreng pedas ditemani mug air yang selalu stand by di sampingku, satu suapan satu tegukan air, berulang-ulang hingga selesai. Mungkin juga ini efek dari waktu ketika masih dalam kandungan, aku sudah diberi dosis cukup dari rasa pedas melalui plasentaku dari ibu seorang itu yang tergila-gila dengan cabe!.

Suatu waktu aku kedapatan sedang menunjukkan korelasi antara kognitif dan psikomotorik, di mana aku sedang menikmati makan sendirian di piring dengan mengunakan jemari, makan sebiji demi sebiji nasi di piring, namun tiba-tiba aku pergi meraih mug air minum yang letaknya tak jauh. Lalu meneteskan air tetes demi tetes ke sisa nasi dalam piring dan kemudian memakannya lagi. Seolah ingin melembutkan nasi di piring agar enak dimakan, entah dari mana ide ini datang.

aku dan Kalila, sepupu dua kali

bergaya casual santai

Salah satu kemajuan di bulan ini adalah ketika aku sudah di masa pra berjalan, sudah bisa melangkah dengan sempoyongan hingga tujuh langkah lebih atau kurang. Bahkan sudah ingin segera keluar rumah dan ingin bermain dengan anak kucing baru, berwarna kuning yang oleh keluargaku dinamakan Rambo, kuncing jantan yang terpisah dari induknya dan terbuang dari tuannya datang dengan kurus dan kini sudah terlihat gemuk dengan perut membuncit. Rambo memancing aku untuk mengejarnya, namun kadang aku yang malah takut didekati oleh Rambo. Aku juga sudah bisa melakukan hal dari duduk ke berdiri dan sebaliknya, tanpa bantuan orangtuaku lagi. Proses awal berjalanku memang tidak mudah sering dituntun, dibimbing hingga dimotivasi agar aku bisa segera berjalan dengan baik sendirian tanpa berpegangan lagi.

Di bulan ini, ayah mulai memberi aku bolpoin dan selembar kertas untuk mulai mengajari aku mencorat-coret, dan rupanya ini menjadi hal yang mengasiykkan, bahkan bukan hanya media selembar kertas tetapi juga beranjak hingga di tangan dan kaki ku, tidak sampai di situ juga kaki hingga paha ayah ibuku juga menjadi media untuk corat coret. Bekas coretan ini kadang terbawa hingga aku tertidur hingga menyisakan bekas noda di sprei tempat tidur. Mencoret-coret kali ini merupakan hal baru bagiku, di bulan-bulan sebelumnya aku sudah dibiasakan dengan melihat buku dan koran, walau belum punya skill untuk membaca, tetapi yang dilakukan oleh ayahku adalah ingin aku sepertinya suka membaca dan menulis di kemudian hari.

coretan pertamaku!

Aku semakin akrab dengan orangtuaku mulai dari merangkulnya dan ingin digendong dari belakang, dan juga ingin di manja serta meminta perhatian. Bahkan aku akan lesu ketika kedua orang tuaku sedang memusatkan perhatian seperti sedang menonton film atau membuka ponsel. Aku sudah punya kemampuan interaksi yang semakin hari semakin meningkat, masih dan terus saja rasa keget terhadap sesuatu yang baru dilihat. Berbeda kala aku sering di ajak ayah dan ibu berkeliling menggunakan kendaraan roda dua, melihat kondisi kota. Menikmati semilir angin dan melihat semua pernak pernik kota. Lucunya adalah dalam perjalanan itu aku hanya terdiam dan tak menunjukkan sedikitpun rasa kaget melihat sesuatu yang belum pernah dilihat.

Kalau urusan menyusui aku punya gaya yang aneh-aneh, bahkan ingin melakukan rotasi akrobatik, menyusu sambil bermain, bernyanyi hingga menonton tivi. Aku juga dalam beberapa hal sudah memahami apa yang dikatakan oleh ibuku, seperti sudah bisa menunjukan mana hidung dan mata, dan kata perintah daaag bila melepas kepergian orangtuku ke kantor. Kini juga aku sudah bisa memberikan senyuman yang paling manis, senyuman manis dengan serial gigi yang berimbang atas dan bawah, dilengkapi dengan hidung yang pesek. Senyum sumringah ketika semua keadaaan baik-baik saja dan keinginanku dapat terpenuhi dengan baik. Aku juga sudah senang sekali bermain ciluk ba, namun cara yang orangtuaku pakai adalah seolah ingin menghentakku dengan sebutan mbaaa!  Satu hal terakhir aku sudah bisa menunjukan muka jail ketika sedang menganggu kedua orangtuaku!, entah dengan mengigit bagian punggung, perut atau kaki, merampas kacamata atau mencakar!, ketika aku menunjukan wajah jail, maka kedua oarngtuaku sudah merubah keadaan dari posisi waspada ke siaga, hehehe. (*)

Kupang, 26 Maret 2017
@daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;