Minggu, 26 Februari 2017

13 Bulan Usiaku

Sudah 1 tahun 1 bulan usiaku dan aku sudah mempunyai kemampuan bicara di atas rata-rata anak seusiaku. Bahkan aku sudah mengulang secara spontan kata-kata yang diujar oleh kedua orangtuaku, dan bahkan menyambung apa yang sedang disampaikan oleh kedua orangtuaku dengan kata-kata yang matching. Kata-kata yang sering aku ucapkan adalah kata-kata seru seperti, appa tu, appa ni, appa ta, yang sepintas serasa menjadi kata tanya. Selain itu ada kata-kata yang baru dan paling sering aku ucapkan adalah betabay, manna manna, badabaah, imaahh, imay, baahh, imiih, heistss (ujaran mengusir kucing “ucil” yang ingin masuk ruangan) dan ada juga kata seru andalanku batjaaaaa!!, yang disampaikan secara kaget-kagetan. Kadang aku terlihat juga bermain sendiri sambil berkata-kata layaknya penyair.

Rasa senang dengan youtube begitu tinggi, muncul juga kekuatiran orangtuaku bila tontonan itu akan menganggu kosentrasi dan kehidupan sosialku kelak. Kabar baiknya diusiaku saat ini, tidak lagi rewel seperti di bulan-bulan sebelumnya, dengan gigi yang sudah delapan buah empat di atas dan empat di bawah, aku sudah teramat percaya diri tersenyum lebar dan tertawa manja. Kurangnya adalah pada usiaku ini, masih ada saja orang yang melihat aku dan mengodaku ganteng, ada juga yang menilai dari pakaian unisex yang terlihat maskulin, pada hal aku sangatlah cantik hehehe. Di saat ini aku sudah terlampau mengerti apa yang ditonton di televisi, suatu ketika ada edisi yang bercerita tentang kucing-kucing lucu, aku terus tertawa kegirangan selama tayangan yang berlangsung sekitar 7 menit itu. Begitupun kala aku sedang menonton komedian Rina Nose di televisi, aku juga tertawa lucu sesuai denga celutukan artis perempuan itu.

belajar berdiri sempurna sambil menunggu

Di bulan ini, ibuku kedatangan tamu teman perempuannya, kebetulan ada anak laki-lakinya berusia 2 tahun, namanya Fatin. Awal mulanya aku terlihat jaim tapi berlahan-lahan aku akrabi seolah ia adalah saudaraku. Ini juga menunjukkan bahwa aku sudah senang bertemu dengan teman sebaya. Di waktu lain aku dan ibu datang ke rumah Fatin, membalas kunjungan. Di waktu bersamaan sudah ada rasa malu bagiku, ketika melihat orang lain atau lagi berkunjung ke sebuah tempat yang belum femilier dan cenderung takut.

Sedari kecil aku memang sudah suka memilih benda-benda kecil dan memasukan ke dalam mulutku, yang tentunya selalu dalam pengawasan kedua orangtuaku. Sering aku tertangkap tangan sedang memungut dan memasukkan ke dalam mulut butiran nasi yang telah kering yang ada di lantai dan sudut-sudut meja. Dan hingga kini aku suka makan sesuatu dengan cara memungut sabiji demi sebiji nasi yang ada di piring atau terjatuh di luar piring. Bahkan dengan cara demikian, aku sangat menyukai makan sendirian atau makan dari piring makan ayah atau ibu. Tidak hanya itu, aku juga selalu menyuap apa yang aku ambil ke dalam mulut ayah dan ibu dan lucunya juga, apa yang telah ada dalam mulutku, ku bagi ke kedua orang tuaku. Disinilah kelihatan jiwa sosialku. Memang kadang makanan yang aku dapatkan aku suapkan kembali  kepada kedua orangtuaku, dan juga mungkin kepada orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa aku orang yang suka berbagi. Aku juga untuk saat ini sudah bisa menghabiskan satu hingga dua pentolan bakso, sepotong gorengan pisang hingga sepotong ayam goreng.

pertama kali belajar makan sendiri

sabtu bersama bapak, jalan-jalan

Saat selera makanku menurun biasanya dengan mencampur daging atau udang, nafsu makanku dapat meningkat kembali. Dan satu hal lagi, entah karena mewarisi gen ibu atau juga pengaruh ibu yang suka makan pedas di saat mengandung diriku, aku kini suka makan juga sesuatu yang pedas, makan nasi goreng pedas misalnya. Jadi walau sekali makan sesuatu yang pedas membuat aku menangis. Namun itu hanya sementara, karena setelah minum air maka aku akan kembali meminta makanan yang pedas itu lagi dan lagi.

Di musim inilah terjadi penghujan teramat sangat, seperti masa setahun yang lalu ketika aku baru dilahirkan, pakaian berlusin dari sepasang baju bayi, loyor hingga handuk yang harus disetrika hingga kering. Alhamdulilah aku masih beradaptasi dengan lingkungan di saat anak-anak sebayaku banyak yang sakit. Salah satu yang meningkatkan kekebalan tubuh tentunya ASI yang memadai. Permaiananku hari-hari adalah membongkar mainan dalam kantong dan bokor, mengeluarkan dan kemudian memasukkan kembali. Aktivitasku juga adalah mencari benda-benda kecil di kolong kursi, meja bahkan hingga keranjang pakaian, ingin melihat celah-celah terkecil dari perabotan rumah, kemampuan ini bahkan hingga bisa menemukan benda-benda yang sebelumnya dinyatakan hilang. Kemudian juga aku sangat interest dengan isi lemari pakaian, isi dompet ibu dan ayah hingga tas kerja ayah, aku ingin mengeluarkan apa yang ada didalamnya, ingin mengetahui isinya, memainkan kartu-kartu hingga lembaran uang. Karena bagaimanapun dan apapun sesuatu yang baru pertama kali dilihat selalu menarik.

sedang makan cemilan

Aku memang sedang belajar, dan salah satunya adalah meniru prilaku kedua orang tuaku, seperti mencoba mengorek kuping dengan cottonbud, memakai kaus kakiku sendirian, bahkan ingin mengunting kuku jamari kaki sendirian. Selain gestrure menjentikkan jari, aku juga sudah tahu cara melepas kepergian seseorang dengan daag!, sambil tangan yang terus melambai, hal ini rutin dilakukan ketika mengantar ayah pergi ke kantor.

Di bulan ini ada kemajuan cara berjalanku, ketika aku sudah mampu berdiri 2,5 menit dan dapat berjalan hingga tiga langkah ke depan, aku biasanya mulai berdiri di depan tivi hingga berdiri di halaman. Demikian juga dengan cara tidur yang memakan hampir setengah luas tempat tidur, sedangkan kedua orangtuaku berbagi dari setengah itu. Gaya tidurku layaknya tanda bintang berputar. Kini tinggi sudah mencapai 75 centimeter dan berat badan 9,3 kilogram, berikut adalah berat badanku dari bulan ke bulan, yaitu bulan 0) 3,2 kilogram, 1) 4,0 kilogram, 2) 4,5 kilogram, 3) 5,6 kilogram, 4) 6,1 kilogram, 5) 6,7 kilogram, 6) 7,4 kilogram, 7) 7,4 kilogram, 8) 8,2 kilogram, 9) 8,6 kilogram, 10) 8,8 kilogram, 11) 9,0 kilogram dan 12) 9,3 kilogram.

wajah baru bangun tidur

Kelakuan umumnya bayi ketika menyusu yaitu sambil berekspolorasi di wajah ibu, mulai dari mata, mulut, hidung, telinga hingga tahi lalat ibu di pipi menjadi sarana eksplorasi yang sudah dilakukan sejak bulan-bulan awal. Dan kini bentuk eksplorasi baru adalah langsung melihat pusar sendiri, selepas menyusu, seolah ingin mencari hubungan antara menyusu dengan pusar, bahkan juga ingin membandingkan antara pusar ibu atau ayah dengan pusar sendiri.

Aku bisa begitu menyayangi ayah dengan sering menganggunya, memanjat hingga mengigit tubuh ayah, aku selalu memanggil ayah… ayah… ayah… dengan suara yang lembut. Suatu waktu aku berkomunikasi suara via Whatsapp  dengan ayah, begitu akrab dengan cerewetnya diriku menyampaikan semua hal yang terjadi dengan bahasaku sendiri. Namun di sisi lain kadang aku marah besar terhadap ayah, jika sesuatu yang aku inginkan tidak diberi, aku memukul, meremas tangan ayah bahkan menghajar jemari ayah. Begitulah sisi emosionalku, aku bisa membuang barang subtitusi dari benda yang aku inginkan, karena bukan itu yang aku maksudkan. Dan bila yang dikehendaki ada atau dikabulkan, maka demikian tawa yang hadir atau rasa kemenangan yang ada.

Selain itu masih banyak kejadian yang terjadi di bulan ini. Seperti terkena cabe di mata dan wajah, menelan minyak telon dari botolnya, memasukan sabun detergen dalam bak mandi, sudah ada rasa takut melihat ulat-ulat musim penghujan di lantai. Makan langsung nasi dari ricecooker, mulai memanjat lemari dan menaiki meja, ingin menyapu dengan menggunakan sapu lidi dan sapu rumah. Ingin keluar rumah dan ingin bergaul dengan tetangga dan kucing, dan lain sebagainya bagian dari ulahku.
Demikianlah hari demi hari apa yang telah aku lalui dan jalani, di saat waktu berlalu aku semakin bertumbuh, banyak hal yang aku akan lupakan dan mencatat adalah bagian dari aku bisa mengenang masa keemasanku!. (*)

Kupang, 26 Februari 2016
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;