Sabtu, 26 November 2016

Alhamdulillah, Sepuluh Bulan Usiaku!


Di awal bulan kesembilanku, tepatnya tanggal 29 Oktober, aku mengalami sebuah pengalaman dalam membentuk identitas feminimku, bahwa aku perempuan. Ayah dan ibu membawaku ke Toko Emas Sahabat di Jalan Ikan Tongkol Kupang, untuk memasang sepasang anting-anting. Tembakan pertama di telinga sebelah kiri membuatku kaget dan langsung menangis, untuk tembakan kedua tak membuatku kaget lagi, ayahku yang merasakan karena aku didalam pangkuannya. Sebelumnya aku terlihat maskulin, banyak orang yang melihatku seperti anak cowok, namun dengan telinga yang telah memakai anting-anting, mempertegas diri bahwa aku seorang perempuan. Kini juga aku telah mempunyai gigi genap berjumlah enam, empat gigi seri di atas dan dua gigi seri di bawah, walaupun di sisi lain aku masih tetap rewel di masa pertumbuhan gigiku.

Di bulan ini semakin tinggi daya kognitifku untuk mengetahui segala hal bahkan jika perlu menyentuh hingga memasukan ke dalam mulut, selalu ada ujaran-ujaran keheranan ketika melihat sesuatu yang belum pernah dilihat, benda bergerak atau diam, dari mobil atau motor yang melaju hingga hewan seperti kucing atau anjing, dari pohon yang diam hingga kosmetik ibu yang beraneka warna. Kadang juga aku sudah terlihat ingin berkomunikasi dengan kucing, aku seperti ingin memarahi seekor kucing yang datang dari luar rumah. Memang benar daya keinginantahuanku begitu tinggi dan berusaha untuk mengapai barang apa saja, karena itulah tata letak barang-barang di kamar kami berubah, barang-barang oleh orangtuaku sengaja dipindahkan ketempat yang sulit dijangkau atau yang lebih tinggi agar aku tak bisa mencapainya. Namun demikian masih ada saja usahaku untuk meraihnya, bahkan dengan berjinjit mengapai barang yang letaknya tinggi atau dengan membuka laci dan membongkar isi lemari. Jika bulan sebelumnya aku suka mengenggam benda dan tak mau melepaskannya, tapi kini aku mulai menyukai membuang barang, seperti keinginantahuanku apa yang terjadi ketika barang itu dibuang atau dibanting.



Karna aku adalah anak yang aktif, aku tak bisa duduk dan berdiam diri, sebagian besar dari bangunku adalah bermain. Aku bisa mulai dari membantu ibu menghafal Al-Quran, merapikan kamar, memotong sayur, membuat kue bahkan hingga mencuci pakaian. Walau secara jujur bukan membantu, tetapi sesungguhnya adalah bermain, karena kemampuan, kesenangan dan semangatku yang suka membuat hal-hal menjadi berantakan, sebagaimana semua apa yang aku mainkan. Aku di bulan ini juga melakukan imunisasi campak, karena sudah berusia sembilan bulan, tapi kali ini sedikit berbeda, di atas pangkuan ayahku, aku tak menangis kala jarum suntik melukaiku lengan kiriku. Memang hampir di setiap saat aku selalu di pangkuan ayahku jika mengalami hal-hal seperti ini. Kali ini juga saya tidak mengalami demam sama sekali. Sepasang kakiku kini sudah tidak berkeringat lagi dan cuaca Kota kupang saat sempat membuat biji panasku muncul, seperti yang pernah aku alami di saat usiaku masih sebulan. Karena air adalah menjadi bagian penting dari experience, aku sangat menikmatinya jika sedang mandi, apa lagi dengan adanya beberapa mainan seperti bebek karet turut melengkapi kesenanganku berlama-lama di dalam bathtub miniku. Begitu selesai mandi aku begitu tampak segarnya.



Kini aktifitasku sudah mulai berubah, seperti makan dan mandi yang sebelumnya terlentang kini sudah dengan cara duduk hingga berdiri. Kemampuan berdiriku sudah baik, aku sudah bisa berdiri tegak selama satu dua detik, namun masih dalam bantuan dan pengawasan. Aku juga sangat senang memanjat tubuh kedua orang tuaku, baik saat mereka duduk, makan, solat bahkan hingga orangtuaku berdiri aku bisa memanjati mereka. Duduk, merangkak, berguling, memanjat, berdiri hingga melompat-lompat dalam keadaan duduk adalah bagian dari aktivitas anak-anak di seluruh dunia seusiaku, sehingga ini menjadi bagian dari pengalaman empiris dari perjalanan pertumbuhanku. 

Di saat aku bergembira, aku akan mengangkat kedua tanganku searah bahu sambil mengeluarkan suara-suara gumaman serupa nyanyian. Tapi di saat yang lain, aku juga sering kedapatan menepuk kepala dengan telapak tangan, sepertinya aku sedang pusing atau sakit kepala. Aku juga sudah mempunyai gaya gestur menyambut uluran tangan kedua orangtuaku jika ingin mengendongku, dan ketika orangtuaku sengaja membatalkan uluran tangannya, maka aku segera menangis terisak. Aku memang begitu menyukai kalau digendong dan konsekuensinya kedua orangtuku encok!. Aku memang telah begitu dekat dengan kedua orangtuaku, jika ada orang selain kedua orantuaku yang ingin mengendongku, maka aku niscaya akan menangis dan tak akan menerima rangkulan orang lain. Aku juga sudah merasa kuatir kalau aku tak melihat kedua orangtuaku, jika mereka tak terlihat aku langsung menangis.Di musim ini aku juga sudah mengerti dan memahami apa itu gadget, aku sangat menyukai lagu anak-anak berbahasa inggris dan indonesia di youtube, jika sementara aku menonton dan terjadi loading lambat, maka aku akan segera terisak, sehingga ibuku mentaktisinya dengan menyimpan lagu anak-anak di youtube secara offline. Aku juga sudah memahami cara menggunakan gadget dengan memainkan ujung jari telunjuk, hal yang aku tiru dari kedua orang tuaku kala mereka memainkan gadget. Selain itu aku juga sering berkomunikasi video call via messenger dengan nenek dan tante, aku bahkan sering kali mencium mereka di layar ponsel, hingga layar ponsel penuh dengan liurku. Demikian juga aku akan terlihat kepo saat orangtuaku sedang asyik memainkan gadget ponsel, aku juga ingin melihat layar ponsel mereka, entah itu karena menonton video atau membuka facebook. Meniru adalah pengetahuan dasarku yang aku bangun untuk meningkatkan kognisi hingga psikomotorikku, karena di saat ini, aku juga sudah mengetahui fungsi sisir, ketika aku mendapatkan sisir maka aku akan segera merapikan rambutku sendiri walau tak menyisir dengan sempurna.(*)

Kupang, 26 November 2016
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;