Senin, 26 September 2016

Alhamdulillah Delapan Bulan Usiaku…

Menurut orang delapan adalah angka sempurna, karena tak ada garis yang terputus. Aku kini sudah berusia delapan bulan, sebagai seorang bayi telah berevolusi dari tak berdaya sebagai bayi mungil pendiam, kini aku menjadi bayi aktif yang sedang menikmati masa pertumbuhannya. Kisah di satu bulan ini dimulai ketika aku bisa bertemu dengan seorang doktor peneliti dari Osaka University bernama Yoshinari Morita. Beliau sedang melakukan riset di Timor dan semoga aku bisa sepertinya kelak, yang memiliki pengalaman kerja lingkup internasional.


kini daya gerakku semakin lincah. Aku sudah bisa melakukan gerakan dari posisi berbaring ke posisi duduk. Gerakanku bukan lagi level merayap, tetapi sudah merangkak dengan kecepatan yang semakin meningkat. Aku sudah bisa menunjukkan ekspresi kegirangan dengan melonjak-lonjak di saat tengkurap dan kemudian hingga akhir bulan ini, aku sudah bisa melonjak-lonjak dengan posisi duduk. Aku bisa mengekspresikan suasana hatiku dengan celotehan-celotehan lucuku, kadang hanya ekspresi gumaman pelan hingga seperti keadaan sedang mengomel dan mencak-mencak. Di kala lain aku sering kedapatan kedua orangtuaku bergumam berirama seperti benyanyi sendirian menghibur diri. Kalau lagi girangnya aku suka membuat berantakan, ciri khas bayi yang sedang melakukan ekspolrasi.


Kabar gembiranya, aku baru bisa mulai makan makanan tambahan di saat usiaku beranjak dari tujuh bulan. Aku tidak diberikan makanan instan tetapi hasil olahan ibuku sendiri, seperti bubur dengan campuran kentang, wortel, marungga dan sayur-sayuran lainnya serta daging, ikan dan telur ayam kampung. Demikian juga dengan bulan ini, aku juga sudah bisa minum air dengan menggunakan gelas, ukuran bibir dan mulutku sudah memungkinkan menggunakan gelas. Memang begitu susahnya memberikan makanan bayi padaku, ada saja hambatannya. Dari aku yang enggan makan sama sekali, harus dirayu, bermain sambil makan, nonton sambil makan atau bercerita sambil makan, dengan posisi makan tidur beralaskan bantal.

Diusiaku ini aku sudah diajak refresing seperti ke car free day (CFD) di Jalan Eltari Kupang dan Mall Ramayana Kupang. Dan aku kelihatannya senang berada di mall dan berada di jajaran pakaian anak-anak yang indah dan mencolok. Serta aku juga sudah merasakan bermain di arena permainan di mall, salah satunya mengendarai dolpin yang lucu. Selain itu aku juga sudah sangat menyukai vidio kartun anak-anak yang didownload dari youtube dan dimainkan di televisi. Lagu-lagu di vidio Bibitsku menjadi teman bermainku, begitu mendengar aku melonjak-lonjak, kadang dengan bertepuk tangan, juga dengan tangan yang bergoyang-goyang ke depan dan ke atas. Lagu-lagu di vidio Bibitsku juga dijadikan sebagai tontonan di saat makan.



Di akhir umurku delapan bulan, telah muncul satu unit dari gigi seri tengah kiri bagian bawah dan ini menjadi pengalaman emosionalku, aku seperti mengalami masa sensitif, seperti rasa kesal dengan mengusap wajah karena bosan, demikian juga berpengaruh pada waktu tidur di luar tidur malam yang singkat atau segera bangun dengan tidur hanya kisaran 5-15 menitan, juga disertai dengan selera makan yang turun. Bagian lainnya adalah aku sudah mengerti jika merasa sendiri dan sudah mengerti jika ditinggalkan maka aku seraya akan menangis.


Di saat fungsi-fungsi indraku sudah mulai berkembang dengan pesat, aku sudah berinteraksi dengan dunia luar melalui perabaanku, penglihatanku, pendengaranku, penciumanku dan pengecapanku. Namun yang lebih dominan adalah indra pengecapanku yang ingin mengukur segala sesuatu dengan lidah, bahkan aku ingin memasukan apa saja yang kutemui ke dalam mulutku, untuk sekedar bisa merasakan tekstur dan rasa dari mainan, remote tv hingga ujung sudut rak televisi. Demikian juga logikaku sekali lagi bisa memahami prinsip sebab akibat, seperti gulungan karpet aku kendalikan bisa berdampak pada lipatan karpet pada ujung yang lainnya, sama pemahaman ku tentang fungsi remote dan televisi. Selain itu aku sudah mengerti tentang larangan, ketika aku merangkak terlalu jauh dan orangtuaku melarang, aku akan segera menoleh, tersenyum dan tertawa namun terus melanjutkan gerak rangkakku. Dengan genggaman dan jemari yang semakin kuat, aku kini suka mencakar walau rutin memangkas kuku, biasanya orangtuaku sering mendapatkan cakaran hangat dariku, tetapi mereka tetap menyayangiku. Kini dengan usiaku sekarang aku sudah memiliki tinggi 70 centimeter.





Selain rasa gelisah dan tangis yang menemani pertumbuhanku, senyumanku semakin menawan hati. Tangisku karena berbagai hal seperti rasa gelisah hingga kejedot dapat berhenti dengan digendong dan sepersekian detik bisa menjadi tawa kembali. Waktu bangunku hampir 80 persen diisi dengan bermain, dan 20 persen menyusu, makan dan atau diam tanpa berbuat apa-apa. Dalam bermainku aku sering menunjukan rasa excited yang berlebihan, kalo menurut orang kupang “gigi asam” yaitu ekspresi dengan menegangkan seluruh tubuh dengan gigi atau gusi padaku terkatup rapat. Lain lagi soal tidur yang semakin menujukan tipe tidurku, aku bisa tidur malam dengan lelap dengan gaya suka-suka, namun yang lebih dominan adalah tidur menyamping ke kiri, mungkin terbawa dengan posisi tidur pewe ibu ketika sedang mengandung diriku. (*)

Kuta, 26 September 2016
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;