Jumat, 01 Agustus 2014

Mengintip Sedikit Sejarah Asia Tengah melalui Sabina Altynbekova


Pada pergelaran Kejuaraan Voli Asia, Asian Women Volleyball U-19 Championship ke-17, pada 16-24 Juli 2014 di China Taipei lalu. Tampil sosok perempuan yang kemudian menjadi pembahasan menarik di dunia maya, bukan karena aksi permainannya tetapi lebih pada kecantikan dan kemolekan tubuh yang dimiliki seorang atlit bola voli asal Kazakhstan. Namanya Sabina Altynbekova, mendadak tenar dan menjadi perbincangan di jejaring sosial setelah salah satu user 9gag.com memposting foto-foto aksinya di lapangan. Dengan tubuh tinggi semampai, ditambah kecantikan wajah imut oriental dengan mata teduh yang memesona, serasa memiliki kecantikan sempurna. Sehingga banyak komentar dan guyonan yang muncul untuk menjadikannya sebagai kekasih dan segera menyatakan diri sebagai penggemar. 

Gadis lajang yang baru berusia 17 tahun ini, memiliki tinggi 182 cm dan berat badan 59 kg, yang membuat tampilannya ideal dengan wajah khas Asia. Karena menarik perhatian, akun sosial media miliknya kebanjiran pengunjung seperti ask.fm dengan akun @AltynbekovaS, instagram dengan akun altynbekova_11 dan facebook dengan akun altynbekovas. Kebanyakan penggemar barunya datang dari negara-negara Asia dan salah satu yang terbesar adalah dari Indonesia. Sayang sekali kecantikannya banyak dikritik, baik oleh pelatih maupun rekan tim volinya, karena membuatnya semakin populer dan menganggu keseimbangan dan fokus tim. Sabina terlalu cantik hanya untuk menjadi seorang atlit, Ia lebih cocok menjadi model, artis atau bintang iklan shampo, karena memiliki poni dan rambut hitam yang indah.

Dilihat dari tampilan fisik Sabina Altynbekova, dipastikan bahwa Ia memiliki ras Mongoloid Asia (Asiatic Mongoloid) dengan warna kulit seputih lobak, tubuh sedang dengan rambut hitam kejur lurus, serta bentuk muka lonjong dan mata yang agak sipit. Gadis muda yang mengaku sebagai muslim dari Asia Tengah ini, akan mengingatkan kita sejarah antara peperangan, penaklukan, kecantikan dan kejayaan yang terjadi di wilayah yang merupakan bekas Uni Sovyet ini. Membawa kita kembali menyusun puing-puing kejadian di masa lalu untuk membentuk mosaik kisah yang menghantarkan kita pada masa kekinian. Menarik kebelakang relasi antara pelaku sejarah masa lalu dengan bentukan hari ini yang pernah menjadi bagian masa yang telah lewat. 

Beranjak ke masa enam abad lalu atau tepatnya di masa Tamerlane (1336-1405 M), atau juga dikenal sebagai Timur Lenk, yang adalah seorang penakluk dan penguasa keturunan Turki-Mongol dari wilayah Asia Tengah, yang sangat terkenal pada abad ke-14, terutama di Rusia selatan dan Persia, daerah kekuasaannya melintang dari perbatasan Cina hingga Yunani. Kisah penaklukannnya melampaui Iskandar Agung dan Jenghis Khan. Diceritakan pada masa tersebut sekitar tahun 1373 M terjadi penaklukan oleh barisan tentara pimpinan Timur Lenk atas wilayah Khawarizmi (Uzbekistan) dan untuk menghindari pembantaian, dilakukan kesepakatan dengan mengirimkan putri cantik bernama Khan-zada untuk dinikahkan dengan putra sang penakluk Timur Lenk bernama Jahangir. Mengirim seorang putri untuk menyelesaikan perang, dianggap sebagai penawaran mulia karena sang putri memiliki darah kebangsawanan, kekayaan melimpah dan juga memiliki kecantikan yang sempurna.

Ketika dalam perjalanan menemui calon suaminya Jahangir, dengan dikawal kesatria berkuda, rombongan Putri Khan-zada membawa begitu banyak hadiah berharga untuk keluarga barunya. Orang-orang pada terkesimah melihat Putri Khan-zada yang menunggangi unta dan memakai hijab sebagai bagian tradisi Islam, untuk melindungi kecantikannya dari mata yang tidak suci. Kecantikan mereka hanya dinikmati oleh keluarga kerajaan, tidak mengenal apakah mereka akan dinikahkan dengan pangeran tampan atau tidak. Jadi bisa dibayangkan bahwa perempuan kadang menjadi penyulut dan sumber motivasi perang, tetapi di saat tertentu perempuan dapat menjadi pendamai untuk menghindari pertumpahan darah dalam perang penaklukan. 

Sabina Altynbekova & Mongol Muslim with Central Asia Costum

Menurut kisah tersebut para pangeran akan selalu dinikahkan dengan para putri yang sangat cantik bagaikan houri di surga. Houri yang dimaksudkan di sini adalah para perawan bermata hitam memukau yang menunggu setiap lelaki muslim di kehidupan abadi, dengan keperawanan yang diperbaharui setiap saat. Justifikasi ini juga berasal dari Al-Quran, Kitab Allah yang telah menjadi peggangan saat itu, diantaranya Ayat Al-Quran,”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air, mereka memakai sutra halus dan sutra yang tebal (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah dan Kami berikan kepada mereka haouri bermata gelap (bidadari)” (Surah 44:51-54). Perempuan cantik dianggap sebagai pelipur lara keduniaan dan akhirat. Bahkan di masa itu, untuk perempuan biasa yang memiliki kecantikan menyamai putri, menjadi penting untuk dijadikan selir, penghuni harem atau juga dijadikan sebagai penjamu minuman dalam pesta kerajaan. Mereka dipilih dan dikumpulkan dari pelosok negeri atau juga hasil pampasan perang dari wilayah taklukan baru. Perempuan cantik ibarat sedikit cuplikan dari kehidupan surgawi.

Membayangkan bahwa Sabina Altynbekova adalah Putri Khan-zada, dengan tampilan baju kebesaran bangsawan tradisional Asia Tengah. Menggunakan barokat, sutra atau satin dengan berbagai perhiasan lainnya, yang menambah keanggunan sebagai seorang putri yang cantik. Senyum alami nan menawan, Sabina Altynbekova akan membuat semua lelaki merasa menjadi pangeran di keabadian. Demikianlah garis sejarah yang menghubungkan masal lalu, kini dan masa depan atau yang menghubungkan apa yang telah terjadi, apa yang sudah terjadi dan sesuatu yang belum terjadi. Bukan tidak mungkin kalau Sabina Altynbekova adalah keturunan putri-putri cantik dari keluarga kerajaan di masa itu, atau prajurit-prajurit Timur Lenk yang terlibat dalam perang atau mungkin juga leluhur Sabina adalah mereka-mereka yang sempat menyelamatkan diri dari pembantaian sang penakluk Timur Lenk. Tidak menutup kemungkinan juga Sabina adalah titisan kecantikan dari masa lalu dan juga merupakan sebuah gambaran kehidupan firdaus kelak sebagai seorang bidadari. (*)


Kupang, 1 Agustus 2014
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;