Jumat, 16 Agustus 2013

Ubi Nuabosi, Singkong Cita Rasa Bumi Flores



Kalau berkunjung ke Kabupaten Ende - Nusa Tenggara Timur, maka oleh-oleh yang wajib dibawa pulang adalah Ubi Nuabosi. Hasil bumi yang satu ini selalu menjadi pilihan buah tangan atau oleh-oleh dari Ende. Petugas pelabuhan laut atau bandara sudah mengetahui secara pasti bahwa kardus-kardus penuh yang akan keluar dari Ende adalah berisi Ubi Nuabosi yang cukup memenuhi bagasi, sedangkan yang telah diolah dengan direbus, digoreng atau dibuat keripik biasanya hanya dijiinjing untuk memenuhi ruang kabin. Keripik Ubi Nuabosi juga telah menjadi usaha home industry yang berkembang di Kota Ende. Cita rasa khas Ubi Nuabosi menjadi buah bibir yang kemudian mutlak menjadi buah tangan, tanpa perlu dibesar-besarkan lagi dengan promosi mahal. Jika anda datang bertamu di Kota Ende baik di instansi pemerintahan, swasta atau masyarakat, maka peganan yang biasa disajikan adalah Ubi Nuabosi rebus atau goreng dengan sambal serta dilengkapi minuman hangat. 

Ubi kayu dalam bahasa indonesia dikenal juga dengan nama singkong atau ketela pohon, yang dalam bahasa Inggris dinamai Cassava dan bahasa latinnya Manihot esculenta. Penanaman ubi di Flores pertama kali diperkenalkan pada awal abad ke-16 oleh Bangsa Portugis yang benihnya didatangkan dari Brasil dan semenjak awal abad ke-19 ubi telah ditanam secara komersial. Ubi Nuabosi adalah salah satu jenis ubi khas Kabupaten Ende yang mana struktuk daging ubi tidak berserat dan bila telah diolah, maka akan terasa lembut di lidah dengan cita rasa khas gurih, lezat dan enak dibandingkan dengan jenis ubi lainnya, apalagi jika ditemani dengan sambal tomat atau sambal lainnya yang menambah selera. 
 
 Keripik Singkong Nuabosi MS (Jl. Kokos Raya No. 50 Kota Ende)

Inilah ubi kayu terbaik di daratan Flores bahkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Terdapat tiga jenis ubi kayu yang dibudidayakan di Kabupaten Ende yaitu ubi kayu kuning, ubi kayu tanah ae (air) dan ubi kayu Nuabosi. Wilayah pengembangan ubi kayu ini hampir di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Ende. Namun hanya Ubi Nuabosi yang paling dicari yang hanya dikembangkan di dataran Desa Ndetundora I - III dan Desa Randotonda dengan areal tanam di daerah ketinggian. Nuabosi adalah nama salah satu kampung di Desa Ndetundora I yaitu daerah asli asal nama ubi kayu tersebut. Letaknya berada sebelah utara Kota Ende dengan jarak tempuh sekitar 14 kilometer, dengan tanahnya sangat mendukung sehingga membuat tanaman ini bertumbuh dengan suburnya.

Ubi kayu Nuabosi bila dikembangkan di daerah lain maka produksi dan cita rasanya tidak sebaik di tempat asalnya. Inilah yang membedakan Ubi Nuabosi dengan ubi lainnya, struktur tanah dan kandungan unsur hara di tempat asli ubi inilah yang membedakan dengan hasil produksi ubi di tempat lain. Sehingga wajar jika harga Ubi Nuabosi lebih mahal. Dengan demikian Ubi Nuabosi oleh Pemerintah Daerah ditetapkan sebagai salah satu produk unggulan Kabupaten Ende dan menjadi ikon hasil perkebunan, selain Pisang Beranga yang juga menjadi ciri khas Kabupaten Ende. Di samping ubi kayu merupakan bahan makan pokok bagi penduduk Kabupaten Ende, selain jagung dan umbi-umbian. Bahkan karena menjanjikan warga Ndetundora tak ada lagi yang menanam padi dan jagung dalam satu hamparan kebun, karena lebih diprioritaskan untuk menamam Ubi Nuabosi yang nilai ekonomis lebih tinggi. 



Sebenarnya bentuk Ubi Nuabosi sama saja dengan ubi kayu pada umumnya. Agar tidak salah dalam mencari, adalah dengan memperhatikan kulit luarnya yang berwarna merah muda agak kecoklatan, biasanya ubi didatangkan dalam keadaan segar baru di ambil dari tanah dan masih menyisahkan lumpur yang melekat. Sedangkan bila telah dikupas umbinya berwarna putih bersih tanpa serat, rasa umbinya manis dan empuk serta tahan disimpan, bila telah direbus maka akan begitu lembut terasa, terlihat dari ubi yang begitu lunak. Pedagang Ubi Nuabosi dapat ditemui di beberapa pasar di Kota Ende seperti yang berada di Pasar Mbongawani. Ubi Nuabosi diperdagangkan ditepi jalan berderet beberapa penjual dengan bertumpuk-tumpuk ikatan ubi dan hampir selalu tersedia kapan saja tanpa merasa takut kehabisan. Setiap ikat seharga Rp. 20.000 – 25.000, dengan berat kurang lebih 7 kilogram per ikat. Pedagang di pasar ini sudah puluhan tahun berjualan, sehingga telah mengantungkan hidupnya dari usaha tersebut. Mereka bisa menjual hingga 30-40 ikat perharinya, ubi ini banyak dicari oleh masyarakat dari berbagai kabupaten daratan Flores dan terlebih jika sedang ada kapal yang bersandar untuk berlayar keluar pulau, maka Ubi Nuabosi dibawa keluar seperti ke Timor, Bali, Sulawesi hingga Jawa. Bahkan ada cerita bahwa Ubi Nuabosi telah melanglang buana hingga keluar negeri melintasi benua Asia, Australia, Eropa, hingga Amerika dan Afrika.




Untuk itulah pengembangan daerah sebenarnya dimulai dari apa yang dimiliki masyarakat bukan dengan apa yang dimiliki oleh pihak lain. Masyaralat lokal memiliki peran yang harus diberi sentuhan oleh pemerintah daerah dalam meningkatkan hasil produksi pertanian perkebunan yang dapat meningkat kesejahteraan masyarakatnya. Menjadi perhatian adalah bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dengan fokus dan lokus pada perencanaan ekonomi yang terarah terhadap proses pengembangan ekonomi masyarakat. Salah satunya dengan menerapkan program one village one product (satu desa satu produk) OVOP, yang pertama kali dikembangkan di Jepang yang merupakan pendekatan pengembangan potensi daerah di satu wilayah untuk menghasilkan satu produk kelas global yang unik khas daerah dengan memanfatkan sumber daya lokal. Satu desa sebagaimana dimaksud bisa diperluas lagi menjadi kecamatan hingga kabupaten/kota, sesuai dengan potensi dan skala usaha ekonomis. Ubi Nuabosi memenuhi kriteria dalam OVOP yaitu sebagai produk unggulan daerah, memiliki keunikan khas budaya dan keaslian lokal, berpotensi memenuhi pasar domestik dan ekspor, bemutu dan berpenampilan baik serta dapat berproduksi secara kontinyu dan konsisten. (*)


  Kupang, 16 Agustus 2013
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;