Minggu, 30 Juni 2013

Soevenir dari Waingapu – Sumba Timur


Ketika berada di Kota Waingapu, saya berkesempatan jalan-jalan di Pasar Matawai, yang masih semrawut karena masih menunggu rehabilitasi pasar yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Menariknya saya menyinggahi salah satu lapak pedagang kaki lima yang mengelar dagangan cenderamata benda seni dan budaya khas Sumba, diantaranya saya melihat kerajinan tulang, logam hingga tenun ikat. Berbagai soevenir ini ditawar dengan harga yang termurah puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung kerumitan benda yang dibuat hingga nilai intrinsik dan ekstrinsiknya atau juga karena keantikannya.



Sumba memang telah dikenal secara dunia dengan pamor tenun ikatnya yang khas. Kain tenun ikat Sumba memiliki nuansa warna alami dengan simbol-simbil dekoratif yang penuh pemaknaan baik secara sosial kemasyarakatan, budaya leluhur hingga keagamaan tradisional. Belum lagi proses untuk menghasilkan selembar kain tenun ikat membutuhkan waktu yang lama dan juga melibatkan peran emosional jiwa sang penenun. Dalam kebudayaan Sumba, kain tenun digunakan sebagai pakaian adat, belis (mas kawin), pembungkus jenazah yang membutuhkan begitu banyak kain tenun ikat dan juga untuk kebutuhan adat atau aksesoris lainnya.

Benda-benda karya seni menarik lainnya yang saya amati adalah tongal, yaitu dompet tradisional masyarakat Sumba yang terbuat dari kayu, haikara yaitu sisir hias yang terbuat dari kulit penyu, digunakan oleh para perempuan di bagian belakang kepala pada acara-acara adat tertentu, anahida atau muti sala yaitu manik-manik antik yang terbuat dari batu berwarna orange, dan mamuli yaitu perhiasan emas yang bentuknya menyerupai kelamin perempuan atau rahim dan digunakan sebagai giwang, mata kalung (liontin) atau bros.




Adapun yang juga mewakili kebudayaan Sumba adalah Parang Sumba, parang yang memiliki bentuk ramping di dekat gagang dan kemudian melebar hingga ke ujung, sehingga memiliki ketangkasan di udara, dan menurut berbagai referensi Parang Sumba ini dahulunya hanya untuk berburu kepala manusia. Jika dikaitkan dengan bentuknya yang aerobatik memang parang ini digunakan untuk menebas kepala musuh, kini masa itu telah berakhir dan benda ini hanya menjadi aksesoris pakaian adat dan atau juga menjadi barang pajangan. keunikan lain dari Parang Sumba adalah menggunakan gagang dari tanduk kerbau dan juga gading, yang dahulunya hanya dipakai oleh kalangan bangsawan.


Selain itu ada luluamah, yaitu sejenis kalung lebar yang berupa jalinan kawat tembaga dengan bentuk kedua ujungnya menyerupai kepala kelamin laki-laki (penis) dan disandingkan dengan mamuli makamuluk yang bentuknya menyerupai kelamin perempuan (vagina).


Terdapat soevenir kerajinan yang terbuat dari tembaga seperti patung gajah, kura-kura, belalang, kupu-kupu, sepasang patung laki-laki dan sepasang perempuan, dan juga tak kalah unik adalah dua patung pasangan yang sedang bersetubuh.




Benda-benda hasil kebudayaan seni yang masih bisa dibilang primitif ini memiliki fungsi sosial yang berkaitan dengan kepercayaan Marapu, dari kerajinan emas, tulang, gading, kulit penyu, kayu, manik-manik, batu, daun pandan dan lontar hingga tanah liat dan logam. Ini menandakan bahwa Sumba memiliki kebudayaan yang tinggi dan tentunya mempesona. Benda-benda ini kemudian menjadi sarana tukar menukar dalam adat dan sarana penyembahan terhadap Marapu. Marapu adalah kepercayaan terhadap roh nenek moyang sebagai perantaraan antara penghubung antara kehidupan di dunia dengan akherat, antara manusia dengan penciptanya.

Pedagang cenderamata memang sering membedakan harga yang ditawarkan, baik kepada penduduk lokal, wisatawan domestik hingga wisatawan mancanegara. Hal ini dilakukan karena mereka menawarkan juga berdasarkan kemampuan pembeli, sehingga membuka ruang tawar menawar. Benda kebudayaan memang menarik bagi para wisatawan, dengan perhatian besar oleh semua pihak terhadap pengembangan kebudayaan daerah maka akan meningkatkan penjualan soevenir, dengan sendirinya kebudayaan Sumba semakin terangkat dan meningkatkan ekonomi masyarakat di Sumba dalam sektor pariwisata.

**************************

Selain berjalan di pasar tradisional menemukan berbagai penawaran banda-benda budaya dan seni khas Pulau Sumba, saya juga sempat melihat koleksi benda budaya milik Bapak Oktovianus Nubatonis, seorang pengusaha di Kota Waingapu pemilik Hotel Kaliuda, Ia hanya mau memperlihatkan beberapa koleksinya yang memang akan ditawarkan seperti kain tenun yang telah berusia ratusan tahun, patung etnik dan aksesoris para pelaksana adat.

             

Pengusaha yang memperdagangkan benda-benda etnik ini pernah melakukan pergelaran benda kebudayaan Sumba Timur di Istana Presiden RI di tahun 90-an, yang dihadiri oleh isteri-isteri pejabat dubes berbagai negara di Jakarta saat itu. Dalam diskusi dengannya, Ia menawarkan kain tenun ikat Wau Adat Kebesa Sumba Barat, seharga Rp. 350 juta. Kain dengan panjang ± 8 meter ini merupakan benda pusaka yang telah dialihpemilikan dari Ibu Rambu Yuliana sejak tahun 2000 dan kabarnya kain tenun yang sama telah berada di salah satu Museum di Belanda yang sama-sama diperkirakan berasal dari abad ke-19. 

Ada juga koleksi patung kayu dari Bajawa – Flores yang ditawarkan dengan harga Rp. 50 juta perpatung dan Rp. 150 juta satu set yang terdiri dari 3 patung yaitu patung jantan (sedang), betina (besar) dan patung penjaga (kecil).


Beliaupun menawarkan lamba, yang merupakan perhiasan kepala khas Sumba yang menyerupai bentuk bula molik dari Pulau Rote, berbentuk seperti tanduk yang terbuat dari emas atau lapisan perak, digunakan di depan dahi pada saat upacara tertentu baik digunakan oleh laki-laki atau perempuan. Lamba ini terbuat dari 66 gram emas 18 karat, yang dijual berbanding dengan Rp. 2,5 juta per gramnya. Sedangkan koleksi yang tidak untuk dijual adalah kalung muti sala dengan mata kalung emas.

Saya sempat juga diperlihatkan usaha kerajinan emas yang tengah dikelolanya, yaitu proses pembuatan anting dengan motif ayam. Beliau hanya memperlihatkan kerajinan emas anting ayam setengah jadi. Jika telah jadi dan disempurnakan maka spesifikasi menjadi 64 gram emas 18 karat yang dinilai Rp. 1,5 juta pergramnya. Menurutnya semua masih bisa ditawar, Bapak Oktovianus Nubatonis dapat dihubungi melalui ponsel di nomer 081339299439.








**************************

Ketika akan kembali pulang ke Kupang saya masih menemukan lagi penjualan soevenir di dalam Bandara Umbu Mehang Kunda, Waingapu. Sekilas seperti bandara lokal di NTT lainnya, terdapat stand yang menawarkan berbagai pernak-pernik khas etnik daerah. Berbagai benda khas Sumba itu antara lain: kain tenun ikat, mamuli, kalung muti sala, anting, gelang manik-manik, gantungan kunci dan masih banyak lagi. Mereka menawarkan dengan harga pasti, tetapi peluang menawarpun masih terbuka. Ada yang ditawarkan dengan harga murah, ada juga yang cukup mahal, maklum saja ini dipasarkan dalam ruang bandara. Souvenir khas Sumba dinilai memiliki keunikan dan karakter yang kuat karena mewakili kebudayaan tua yang masih tersisa.





Penjualan soevenir ini semacam art galeri, yang memang membidik para wisatawan lokal dan mancanegara yang akan datang atau pulang dari destinasi wisata. Namun dengan koleksi terbatas yang membuat para pencari cenderamata atau kenang-kenangan kurung mandapatkan referensi alternatif dalam menentukan pilihan. Kadang mereka kalah dibandingkan dengan pedagang kaki lima dalam hal apa yang ditawarkan, atau juga bagi para pengusaha yang menyimpannya di rumah dan menawarkannya pada momen tertentu. (*)

Catatan dari Waingapu – Sumba Timur
Kupang, 30 Juni 2013
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;