Senin, 24 Juni 2013

Oleh-Oleh Kacang Mete khas Pulau Sumba


Jika punya kesempatan berkunjung ke Pulau Sumba, jangan lupa membeli oleh-oleh kacang sumba, itulah pesan teman-teman jika hendak pergi ke Pulau Sumba. Pulau Sumba yang dikenal sebagai destinasi wisata lokal dan internasional ini memang menarik untuk dikunjungi, selain karena panorama alam dan khazanah budayanya, para wisatawan juga dapat membeli berbagai benda seni dan budaya yang banyak ditemukan dari pasar tradisional hingga art shop, yang juga menarik adalah oleh-oleh peganan khas dari Pulau Sumba. Salah satu yang sering di cari adalah kacang sumba dan terutama kacang mete, atau juga biasa disebut dengan kacang mede atau kacang mente, yang merupakan hasil bumi Pulau Sumba. Kacang mete berasal dari jambu monyet (cashew) yang diambil bijinya, dikeringkan dan kemudian digoreng dan dapat langsung dimakan.

Pusat oleh-oleh penganan khas Sumba di Kota Waingapu-Sumba Timur yaitu Toko Oleh-Oleh Utama, yang menjual berbagai macam kacang dengan aneka rasa, kue dengan aneka rasa serta tak ketinggalan kopi Sumba. Penjualan kacang mete produksi Toko Utama masih sebatas untuk Pulau Sumba, bisa ditemukan juga di kota-kota lain di Sumba seperti Waikabubak dan Waitabula, dan jarang dipasarkan hingga Kota Kupang sebagai ibu kota Provinsi NTT. Ini berbeda dengan produksi kacang mete di Pulau Jawa yang sudah banyak dipasarkan secara online. Pada saat tertentu stok produksi kacang mete memang terlihat berkurang, di samping kurangnya bahan mentah dari pemasok juga berhubungan dengan masa panen untuk kontinuitas ketersediaan bahan baku. Kacang mete olahan Toko Utama juga beraneka ragam seperti rasa original, goreng tepung, goreng pedas dan lain sebagainya.


Industri lokal pengelolaan kacang tanah dan kacang mete memang memiliki prospek yang baik di Pulau Sumba. Untuk tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Sumba Timur penghasil kacang tanah (peanut) terbesar ketiga setelah Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara dan Sikka, dengan total produksi sekitar 2.345 ton/tahun, sedangkan Kabupaten Sumba Barat Daya penghasil jambu mete (chasew nut) terbesar ketiga setelah Flores Timur dan Sikka, dengan total produksi sekitar 3.630 ton/tahun, belum ditambah dengan total produksi di Kabupaten Sumba Timur yaitu sekitar 1.985 ton/tahun.  Sayangnya belum semuanya tersentuh teknologi penanganan pasca panen, sehingga nilai ekonomi komoditas tersebut masih relatif rendah.


 

Mete dalam bentuk gelondongan masih begitu murah, dalam kisaran Rp. 7.000 sampai dengan Rp. 8.000/kilogram, sedangkan bila telah diolah dan menghasilkan kacang mete siap goreng, harganya bisa mencapai Rp. 110.000 sampai dengan Rp. 120.000/kilogram. Untuk menghasilkan 1 kilogram kacang mete membutuhkan 5 kilogram gelondong mete. Sehingga keuntungan yang dapat diraih jika menjual dalam bentuk kacang mete siap goreng hampir dua kali lipat. Jika demikian angka kemiskinan di Sumba dapat direduksi dengan meningkatkan pengelolaan pasca panen terhadap produksi perkebunan.

   
 
Memang ada kabar bahwa telah masuk pembeli asing dari luar negeri yang memborong langsung kacang mete mentah dengan kualitas yang telah ditetapkan, hal ini tidak mengherankan karena bahan baku ini begitu dicari untuk kebutuhan pasar dunia yang terus meningkat. Dengan demikian pengusaha lokal akan kesulitan mendapatkan bahan baku kacang mete untuk industri skala lokalnya. Seharusnya hasil kacang mete tidak lagi diekspor dalam bentuk gelondongan, tetapi sudah dalam bentuk paket yang siap dipasarkan. Salah satunya adalah dengan mengolah menjadi produk yang siap untuk dikonsumsi, kacang mete Sumba!

Kacang mete memiliki beberapa khasiat yang sangat berguna, seperti meningkatkan daya tahan tubuh karena mengandung angka kecukupan gizi (AKG) pada elemen zinc, mengurangi perasaan depresi karena mengandung asam amino tryptophan serta mencegah penuaan kulit dan lain-lain. (*)


Waingapu, 24 Juni 2013
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;