Senin, 17 Juni 2013

Buku: Koepang Tempo Doeloe

Sebuah buku tentang khazanah sejarah Kota Kupang berjudul “Koepang Tempo Doeloe”, setidaknya menambah deretan buku-buku sejarah yang masih sedikit tentang keberadaan kota Kupang dalam skala lokal hingga nasional. Buku yang menambah referensi tentang Kota Kupang ini, tentunya menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi masyarakat Kota Kupang yang merindukan dan ingin kembali menemukan unsur heritage pembangunan Kota Kupang dari masa ke masa, dan dibawakannya ke hadapan pembaca sebagai bacaan alternatif kilasan sejarah dengan nuansa yang baru dan sedikit berbeda. Salah satunya adalah dengan menguatkan kajian dengan menambah unsur folklore atau cerita rakyat yang berkaitan dengan migrasi komunitas yang semula berasal dari sejarah penceritaan (oral history).

Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Ruas yang merupakan anak dari Penerbit Komunitas Bambu, yang selama ini memang fokus pada penerbitan buku ilmu pengetahuan sejarah, budaya dan humaniora. Konsep buku “tempo doeloe” yang oleh Kelompok Komunitas Bambu sebenarnya lebih pada buku-buku terjemahan editorial, berupa catatan antologi terhadap berbagai tulisan oleh para penjalajah asing yang kebetulan datang dan menyinggahi suatu wilayah di nusantara dan lalu menceritakan kesannya. Sedangkan dalam buku ini lebih agak berbeda karena berdasarkan pada ethnic dan locus spesifik yang lebih kecil yaitu Kota Kupang dengan penulis tunggal yang adalah putra daerah, Ishak Arries Luitnan.

Eksistensi buku ini juga ditunjang oleh dukungan beberapa tokoh yang memberikan kata sambutan seperti Helmy Faishal Zaini (Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal), Fary Francis (Anggota DPR RI asal NTT), Frans Lebu Raya (Gubernur NTT), Esthon Foenay (Wakil Gubenur dan Tokoh Masyarakat Adat Helong), Ayub Titu Eki (Bupati Kupang), dan tak lupa juga catatan Anhar Gonggong (Sejarawan Nasional) dan Daniel Tagu Dedo (Dirut Bank NTT) yang juga sebagai salah satu sponsorship penerbitan buku ini. Namun yang lebih berarti bagi penulis adalah memasukan sebuah pesan “titipan” dari alm. El Tari (Gubernur NTT1966-1978).

Hadirnya buku ini sebagai upaya penulis untuk merekonstruksi kembali sejarah Kota Kupang dari berbagai serpihan yang pernah ada sebelumnya. Dengan mengurai berbagai topik tentang seluk beluk sejarah lahirnya Kota Kupang, sehingga dapat diperoleh gambaran umum tentang perubahan sosial, budaya, agama maupun politik di sebuah wilayah cikal bakal Kota Kupang di ujung barat Pulau Timor ini. Tidak hanya itu ditambahkan juga dengan beberapa hal seperti daftar garis silsilah keluarga dan aspek toponimi (panamaan tempat).

Kisah bermula dari eksodus Etnik Helong dari Nusa Ina (Pulau Seram) Maluku yang berlayar dan kemudian mendarat di ujung timur Pulau Timor, hingga kemudian melalui perjalanan darat terus bergerak ke arah barat, lalu menduduki dan memutuskan untuk menetap di Kaisalun (Fatufeto) dan Bunibaun (Bonipoi). Mengisahkan perjalanan panjang yang menguras waktu satu generasi untuk sampai pada tempat impian yang mungkin telah dipikirkan sejak awal memulai perjalanan, dengan banyak suka dan duka yang ditemukan. Kaisalun dan Bunibaun sebagai cikal bakal Kota Kupang kemudian diperintah oleh tiga raja yaitu Raja Lai Kopan, Raja Lissin Bissing dan Raja Muda Lais Kodat. Ketiga raja ini memimpin masyarakat Helong sehingga menamakan diri sebagai Kerajaan Helong. Seiring waktu berjalan datang pula berbagai rombongan suku-suku dari pedalaman Timor untuk bergabung dengan Kerajaan Helong, yaitu Suku Pitais, Suku Amabi, Suku Taebenu dan Suku Sonbai, masing-masing diangkat menjadi Fettor (raja kecil) dan membawahi wilayah yang telah ditentukan.

 
Boatyard near Kupang, Timor, plate 9 from 'Le Costume Ancien et Moderne' By Felice Campi

Sebagai sebuah bandar kecil yang kemudian diberi nama “Koepang”, akhirnya bertumbuh menjadi pusat perdagangan cendana, hasil bumi khas Pulau Timor yang menembus perdagangan internasional kala itu, hingga kemudian memancing kedatangan kompeni untuk menjajah dan menjadikan Koepang sebagai pusat administrasi pemerintah kolonial dari era Portugis, VOC, Belanda, Inggris, Jepang hingga pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Begitulah sedikit cuplikan isi buku dan menjadi clue pada pembahasan bab demi bab dalam buku ini.

Dengan demikian buku ini bisa menjadi awal untuk menemukenali kearifan lokal masyarakat penghuni pertama Kota Kupang di masa lalu dan bisa menjadi dasar untuk penelitian lanjutan lainnya. Sayangnya buku yang diterbitkan akhir tahun 2012 dengan tebal 310 halaman ini, belum dijual secara komersial dan masih diterbitkan secara terbatas. (*)


Koepang, 17 Juni 2013
©daonlontar.blogspot,com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;