Selasa, 23 April 2013

Ethnic Runaway, Episode: Fatukoto Timor Tengah Selatan – NTT



Memang kemilau etnik di Nusa Tenggara Timur tak habis untuk dieksplorasi. Tak berselang lama Ethnic Runaway kembali ke Pulau Timor, sempat sebelumnya Ethnic Runaway dengan Episode: Fatukopa Timor Tengah Selatan tayang Maret lalu, kali ini Trans Coproration berkesempatan untuk menayangkan Ethnic Runaway, Episode: Fatukoto yang merupakan sebuah desa di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan - NTT dengan mendatangkan dua orang artis Jakarta, mereka adalah Agung Hercules dan Chacha Frederica.
 
Episode ini ditayangkan di Trans Tv, 22 April 2013, pukul 19.00 Wita. Tim Ethnic Runaway akan bersama-sama mengikuti segala aktivitas keseharian yang dilakukan oleh masyarakat Desa Fatukoto, dengan mengenal berbagai kebudayaan dan tradisi lokal Suku Dawan, yang jarang ditemukan di tempat lain. Kisah yang dipandu oleh dua artis ibu kota ini terbagi dalam beberapa scane yang dimulai dari kedatangan mereka di Kupang, melakukan perjalanan ke Kabupaten Timor Tengah Selatan hingga mengikuti upacara adat ritual syukur Suku Dawan.



Tayangan diawali dari kedatangan mereka di Bandara El Tari Kupang dan kemudian dengan menumpang mobil pick up, mereka ke Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dalam perjalanan mereka berhenti di suatu tempat, karena sang supir akan melanjutkan perjalanan ke arah yang berlainan. Agung dan Chacha dengan seorang crew singgah di permandian Air Terjun Oehala, oe’ berarti air dan hala berarti tempat tidur, yang kemudian diartikan sebagai air tempat tidur, begitulah kira-kira argumen Agung.

Dalam perjalanan menuju Desa Fatukoto, mereka sempat bertemu dengan seorang pengembala dengan crew lainnya yang sedang memainkan felu bijuel alat musik tradisional serupa seruling yang dimainkan saat mengembalakan ternak. Selanjutnya sebelum memasuki Desa Fatukoto, mereka disambut dengan tarian natoni yaitu tarian untuk menyambut atau melepas tamu kehormatan, kebiasaan ini memang telah mengakar di kebudayaan Suku Dawan.




 Kebinggungan adalah awal yang mereka temukan saat berinteraksi dengan masyarakat Suku Dawan, namun secara berlahan mereka mulai memahami bahasa adat suku tersebut. Para tamu dikalungkan selendang (tais), setelah itu mereka diajak ke sebuah bangunan adat suku (lopo) untuk upacara penyambutan selanjutnya yaitu mempersembahkan sirih pinang sebagai lambang persahabatan. Agung dan Chacha belajar bagaimana mengunyah sirih pinang dengan payah, setelah itu mereka diberikan pakaian khas Suku Dawan yaitu kain tais. Menariknya bagi Agung untuk mengatakan memakai pakaian adat Suku Dawan oleh tamu adalah untuk “keseimbangan dan keselarasan”.



Panggilan untuk orang tua angkat di Desa Fatukoto adalah Ama dan Ena, sedang nama adat yang diberikan kepada Agung Hercules adalah Kaunan dan Chacha Frederica adalah Molo. Mereka diperkenalkan dengan rumah adat Suku Dawan yaitu ume bubuk  yang berbentuk bulat, bentuk rumah yang bulat diartikan bahwa orang Suku Dawan harus selalu bersatu, sedangkan bentuk pintu yang rendah dimaksudkan agar semua orang Suku Dawan harus saling menghormati.

Kegiatan selanjutnya adalah menangkap ikan di danau atau lebih tepatnya kubangan air. Cara menangkap ikan di kubangan air bagi Suku Dawan adalah unik, yaitu dengan cara mengobok-obok air kubangan hingga ikan menjadi mabok dan lemas sehingga mudah ditangkap, kebiasaan ini dinamakan hek ika. Secara perlahan mereka sedikit demi sedikit mulai memahami bahasa Suku Dawan seperti membakar ikan, bakar dalam bahasa Dawan “tunu”.




 

Pada malam harinya Molo diperkenalkan bagaimana membuat serat kapas menjadi benang dan kemudian bisa dipintal menjadi kain. Disinilah momen Kaunan yang berbadan besar laksana Hercules sangat takut dengan kecoak, bahkan ia berkoar lebih berani menghadapi 14 singa dibandingkan dengan satu kecoak.

Pagi harinya Kaunan dengan bangga mempersembahkan lagu andalannya “Astuti” kepada masyarakat Dawan hingga terbawa kebiasaannya menenteng barbell sambil berolah raga senam di bawah matahari pagi. Setelah itu Ama mengajak Kaunan untuk mencari kacang hutan di hamparan sabana Timor. Kacang yang dimaksud dinamakan kot laos yaitu kacang-kacangan sejenis buncis tetapi memiliki racun yang bisa membuat mabuk sehingga harus direbus sebanyak 12 kali untuk menghilangkan efek racunnya. Molo sempat bergurau untuk mengetesnya pada kucing yang ada dibelakangnya terlebih dahulu, sebelum dimakan oleh Kaunan. Kacang yang sudah bisa dikonsumsi dinamakan kot pesi.





Siangnya Kaunan mencoba permainan adu kuat tangan atau manaan nimaik yaitu permainan adu kekuatan bagi laki-laki dewasa suku Dawan. Kaunan mencobanya dengan melawan dua orang dan berhasil menghempaskan mereka, namun ketika melawan tiga orang kaunan akhirnya berlaku curang. Kaunan dan Molo juga diperkenalkan dengan alat musik petik tradisional yaitu bejul (gitar tradisional), kemudian menari secara bersama dan seolah mengingatkan semua Suku Dawan dimanapun berada, akan nostalgia tarian-tarian kebersamaan Suku Dawan. Satu waktu Molo diajak untuk mandi di sungai dan diperkenalkan dengan shampo tradisonal yaitu berupa akar-akaran yang diperas untuk diambil getahnya dan dijadikan semacam shampo yang dinamakan nombe sa






Sebagai penutup perjalanan Ethnic Runaway mereka ditugaskan untuk mengikuti upacara syukur hasil panen. Kaunan ditugaskan membawa jagung dan Molo membawa hasil sayur mayur. Upacara adat ini dinamakan onem sukur yaitu ritual setahun panen yang ditandai dengan memotong hewan persembahan yaitu ayam. Kabarnya ada batu kramat di tempat pelaksanaan upacara, bagi siapa yang memindahkan akan mendapatkan bala. Upacara adat diakhiri dengan makan bersama hasil panen seperti ubi kayu, jagung katemak dan labu lilin. Di sini ada adat fansoe yaitu tradisi untuk mengusap hasil panen ke wajah, tak pelak Kaunan dan Molo mendapatkan jatahnya diolesi ubi jalar (ubi kuning) dirambut dan wajah.




Beberapa scene dari tayangan ini memperlihatkan alam lestari di Timor Tengah Selatan, seakan menampakan kehidupan yang asri yang sulit ditemukan di perkotaan yang penuh dengan hiruk pikuk dan polusi, tentu akan menjadi kenangan bagi warga ibu kota seperti Agung/Kaunan dan Chacha/Molo jika telah kembali ke rutinas mereka di ibu kota Jakarta. Disinilah mereka belajar tentang berbagai macam adat yang mencerminkan kearifan lokal yang jauh dari kehidupan modernisme. Indonesia itu kaya! 

Demikianlah kisah perjalanan Ethnic Runaway, Episode: Fatukoto di Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur, dalam upaya terus menggali kekayaan budaya di negeri Flobamorata. (*)



Kupang, 23 April 2013 
©daonlontar.blogspot.com
comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;