Sabtu, 30 Maret 2013

Ketika Ana Kupang Kecanduan Goyang “Harlem Shake”


Photo: http://mashable.com


Saat pertama kali dipopulerkan oleh lima orang remaja (the sunny coast skate) dari Queensland, Australia, dalam video yang diunggah ke ke situs video streaming Youtube tanggal 2 februari 2013 dengan durasi 0:31 menit yang dapat dilihat disini. Video ini mengikuti kesuksesan video buatan komedian blogger Filthy Frank, dengan memperlihatkan para remaja yang sedang duduk bersantai dalam sebuah kamar diiringi musik potongan lagu "Harlem Shake". Seseorang menggunakan helm dan bergoyang sendirian di tengah ruangan di antara teman-temannya yang seolah mengacuhkannya, namun tiba-tiba saja pada scene kedua semuanya ikut bergoyang tidak karuan. Hingga saat ini video tersebut telah ditonton hingga 24 juta kali.

Dari pengamatan orang awam tidak ada yang istimewa dengan prilaku dalam video di atas, namun dengan kemajuan teknologi yang membuat video tersebut ditonton banyak orang dan menjadi pembicaraan di jejaring sosial, media online dan media massa, seakan menumbuhkan sebuah budaya pop baru yang tiba-tiba digandrungi oleh masyarakat seantero dunia. Hanya dalam hitungan hampir dua bulan sudah ratusan ribu video harlem shake berbagai versi telah diunggah ke Youtube. Bahkan kota minipolitan seperti di Kupang, Nusa Tenggara Timur tidak terlepas dari arus itu, hingga para pemuda Kota Kupang juga telah menskenario tema harlem shake dan mengunggahnya. Sudah ada puluhan harlem shake kreasi anak Kupang yang di Unggah ke Youtube, berikut diantaranya yang menarik:

1)      Harlem Shake Cafe Plasa Bonipoi #TelkomselNTT, by erick3905, Published on Feb 24, 2013


2)      Harlem Shake Indonesia Versi KPK (Kupang Punya King) Kupang - NTT Part 2, by erick3905, Published on Feb 24, 2013


3)      +PlusPhotography Harlem shake Kupang – NTT, by Jerry Ernest, Published on Mar 8, 2013
4)      MOKU'S HARLEM SHAKE KUPANG-NTT, by TRAVELER8304, Published on Mar 12, 2013
Video tersebut memang lucu dengan mengambil tema kreasi anak Kota Kupang. Bukan hal baru entitas di masyarakat Kota Kupang terpengaruh dengan budaya yang merambat melalui aspek budaya kosmopolitan, sehingga budaya pop bisa eksis di ranah mana saja. Kita melihat perkembangan mulai dari beberapa dekade lalu hingga kini, seperti dari tarian breakdance, asereje, macarena, shuffle dance, gangnam style hingga kini harlem shake. Memang kini dengan kemajuan teknologi informasi seperti internet, ditambah lagi dengan adanya jejaring sosial dan video berbagi, memungkinkan semua yang kita kreasi dapat eksis di dunia digital maya, yang dapat diakses dan ditonton oleh orang di seluruh dunia. Orang-orang dengan gaya apapun dan latar belakang apa pun membuat video harlem shake terus-menerus dengan konsep yang sama, namun dengan latar dan orang yang berbeda-beda, berbagai versi harlem shake juga dapat diciptakan dengan latar kamar, rumah, pasar, bandara, kantor, pantai, mall, gym hingga dalam kolam renang.  

Sedikit kita mengurai sejarah hingga booming-nya Harlem Shake. Bermula dari sebuah tarian di daerah Harlem, sekitar Kota New York, yang diciptakan oleh seorang pria bernama Al B (Albee) di tahun 1981, dan sempat populer sejenak di tahun 2001, 2006, 2009 hingga kemudian oleh Baauer yang adalah seorang disk jockey (dj) dari Brooklyn, New York, menciptakan lagu electronic dance music  (EDM) berjudul "Harlem Shake" dan kemudian diunggah ke Youtube pada 10 Mei 2012, hingga menjadi trend Harlem shake pada bulan Februari 2013 lalu. Al B sendiri adalah seorang pemabuk yang akan melakukan tarian atas permintaan teman-temannya. Sang pencipta mengatakan bahwa tarian mabuk ini terinspirasi dari goyangan mumi Mesir yang terbungkus lilitan kain, begitu juga dengan adanya pengaruh tarian Ethiopia yang disebut Eskista. Kemudian tarian ini menjadi terkenal dengan Harlem Shake, sesuai nama tempat tarian itu dipopulerkan.

Berbeda dengan goyang suffle yang mengutamakan kelincahan kaki, gangnam style dengan meniru cara berkuda, maka harlem shake memiliki perbedaan yaitu menyajikan sebuah tarian bebas cendrung sedikit erotis oleh seorang penari tunggal dengan ciri memakai penutup wajah dan kepala seperti topeng, kotak atau helm, ia menari di antara sekerumunan orang yang tidak peduli, kemudian seketika diikuti oleh orang-orang disekelilingnya menari serampangan dengan memegang sebuah benda atau tanpa memegang apapun. Video harlem shake memang sengaja di-setting di bawah 60 detik, semacam opera yang terdiri dari scene pertama tarian tunggal dan kedua tarian secara beramai-ramai.

Begitu fenomenalnya goyangan ini, menjadi menarik ditinjau dalam analisis konstruksi budaya pop, tak heran jika teori baru bisa dihasilkan dari analisis budaya, apa makna dari tarian ini apakah bebas dari nilai atau ada sebuah kepentingan tertentu dari aspek budaya, lingkungan dan adaptasi. Apa makna dari seseorang yang menari sendirian tanpa digubris lingkungannya, tetapi tiba-tiba laksana virus yang membuat lingkungan sekitarnya meniru apa yang dilakukannya. Apalagi dengan musik yang memiliki energi tertentu membuat orang berjoget seolah tanpa perintah otak dan tanpa perlu ketrampilan menari, Apakah hubungannya dengan rekayasa budaya masyarakat, entahlah! Memang dibutuhkan analisis sosial humaniora yang lebih serius. (*)

 Kupang, 30 Maret 2013
©daonlontar.blogspot.com



comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;