Jumat, 15 Maret 2013

Catatan Sahabat tentang Reproduksi

Dahulu saya sempat menyampaikan niat kepada seorang sahabat untuk memperbanyak dua tulisannya tentang kesehatan reproduksi. Menurut saya tulisan berkualitas ini, berguna bagi para ibu dan perempuan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan terhadap kesehatan dan keselamatan persalinan dalam rangka menciptakan kualitas hidup ibu dan anak. Tiga setengah tahun lamanya baru saya sempat mengingat kembali dan memiliki kesempatan untuk menyebarluaskannya lagi, yang kali ini melalui media yang lebih luas lagi, terutama setelah saya mempunyai dan mengelola media blog pribadi. Saya masih mengingat di saat saya memintanya untuk belajar menulis tentang keseharian yang mungkin lebih dekat dengan profesinya sebagai bidan (dari Keping XI). Berikut ini dua tulisan tersebut: 


* * * * * * * * * * * * *

Abortus Provokatus

Photo: http://makassar.tribunnews.com


“ibu minta tolong, ini anak saya ada hamil dua bulan dan ada keluar darah”, segera ku persilahkan untuk menuju tempat pemeriksaan. Seorang wanita yang sangat muda bahkan ku menerka-nerka umurnya sekitar 18 tahun, segera ku mengkaji apa yang terjadi pada wanita yang sangat muda ini, namanya NN. X umur 17 tahun, pelajar SLTA tingkat 2, belum menikah, namun aku sempat tertawa waktu kutanyakan siapa calon suaminya (siapa yang menghamilinya), nona muda itu langsung merenggek untuk tidak menanyakan hal itu pada dirinya, namun kujelaskan bahwa itu sebuah data yang harus diketahui untuk proses kelengkapan data setiap pasien baru, NN muda itu meminta untuk mencantumkan nama ayahnya saja, namun tetap saja saya menolaknya dan meminta untuk dia memberikan nama laki-laki itu, ibu yang ada disampingnya hanya terdiam terpaku. Tiba-tiba nn menangis menceritakan padaku bahwa sudah 2 minggu ini dia telah putus dengan pacarnya (laki-laki yang tidak bertanggung jawab menghamilinya) yang merupakan kakak kelas di sekolahnya, yang telah mengajaknya untuk menggugurkan kehamilannya di seorang dukun, dan aku meminta dia menceritakan apa yang dilakukan dukun itu padanya.

NN menceritakan  bahwa dukun itu memasukan sebatang kayu dammar panjang kira- kira 30 cm dan memasuknya lewat kemaluannya dan menusuk-nusuknya hingga dia merasakan sakit yang amat kuat, dan saat itu yang dia rasakan banyak darah yang keluar, dan seakan dunia ini berputar mengelilingginya, beberapa jam kemudian NN ia suruh pulang dan dianjurkan untuk minum ramu-ramuan, namun  minggu berselang  darah yang keluar tidak kunjung berhenti dan dia merasa badanya semakin lemah dan kepalanya sering terasa pusing, nn memberanikan dirinya untuk menceritakan semuanya pada orangtuanya, seketika mereka menyuruh untuk memutuskan pacarnya, sambil terisak dia menceritakanya padaku, miris juga ku mendengar pengakuan seorang wanita muda yang seharusnya diusianya yang sekarang dia tengah berjuang untuk masa depannya kelak, tidak terbaring di ruang bersalin ini dengan keadaan yang sangat lemah.

Abortus provokatus, itu diagnosis yang ku tegakan untuk dirinya, langsung saja kulaporkan keadaannya pada dokter yang sedang jaga hari itu, segera dilakukan pemeriksaan USG, terlihat adanya sisa jaringan yang sudah hancur pada uterusnya dan diperkirakan umur kehamilannya sekitar 8-9 minggu, dokter mengadviskan untuk segera dikuret, langsung kujelaskan pada keluarganya dan saat itu ibunyalah yang akan bertanggung jawab untuk semua tindakan kepada putrinya, lalu ku minta pesetujuanya untuk dilakukan kuret dengan menandatangani inform consent, kupersiapkan alat, obat, dan NN untuk tindakan kuret, setelah semuanya telah siap dokter siap untuk menjalankan eksekusinya pada NN, setelah dokter memasukan sonde uterus untuk mengetahui seberapa besar uterusnya, dokter merasakan tidak adanya tahanan, dokter sempat curiga namun, dokter tetap saja melanjutkan aksinya mengambil sendok kuret dan mencoba untuk mengeluarkan sisa-sisa jaringan yang ada, namun hasilnya terasa tidak ada tahanan dan dokter segera menghentikan tindakannya telah terjadi perforasi uterus, segera dokter menyuruhku untuk memberikan uterotonika yaitu drip oxy 20 unit, segera ku bertanya  biasanya kenapa sampai itu terjadi dan dokter bertanya bagaimana ceritanya sampai dia perdarahan dan dan ku menjawab bahwa NN sisa percobaan aborsi oleh dukun, kemungkinan terjadinya perforasi uterus karena penusukan secara paksa dan tanpa ilmu yang dilakukan oleh dukun, sehingga uterus NN terluka dan kemungkinan rusak, sehingga sementara hanya perbaikan keadaanya dan mengupayakan bagaimana agar darah tidak lagi keluar. Namun ku bertanya lagi kemungkinan terburuk, jika terapi ini tidak berhasil apa yang dilakukan, dokter menjawab ya… terpaksa harus diangkat kandungannya, karena apa yang bisa dipertahankan dengan rahim yang telah rusak dan membusuk di dalam, mengingat sudah 2 minggu kejadian  perdukunan itu telah berlangsung. Tiba-tiba adrenalin dalam tubuhku meningkat, detak jantungku langsung tak terkendali membayangakan bagaimana perasaan wanita yang baru berumur 17 tahun, harus menghadapi kehidupannya kelak dengan penyesalan yang amat sangat karena kenikmatan yang ingin dia rasakan padahal dia belum berhak merasakanya…..


* * * * * * * * * * * * *



IUFD (Intra Uterine Fetal Death)


Photo: http://www.dokterdesa.com

Seorang ibu sambil menahan sakit yang ditemani oleh suami dan seorang bidan puskesmas memasuki lorong ruang bersalin, semakin mendekat dan segera kupersilahkan mereka duduk, awalnya tak pernah kubayangkan apa yang kudapatkan ketika ku mengkaji riwayat obstertri ibu ini. Ku mendapatkan informasi dari bidan yang mengantar bahwa ibu ini hamil yang kedua, hamil pertama keguguran tahun 1995, kehamilan yang hanya berlangsung 2 bulan dan terpaksa harus diakhiri dengan sendok kuret. Dan setelah sekian lama menanti akhirnya ibu ini dinyatakan hamil pada awal tahun 2009, tepatnya ibu ini HPHT (hari pertama haid terakhir) tanggal 25-01-2009, dan ditafsirkan persalinannya tanggal 5-11-2009, selama hamil Ny. x rutin untuk memeriksakan kehamilannya (minimal 4x selama kehamilan), namun memasuki umur kehamilan 34 minggu Ny.x  waktu jadwal control ke puskesmas, namun apa yang didapatinya, bidan tidak lagi mendengar denyut jantung bayinya, bidan bertanya pada ibu apakah ibu masih merasakan pegerakan anaknya? Ny.x hanya menggelengkan kepalanya dan mengatakan sudah dari kemarin dia tidak merasakan lagi tendangan dan putaran bayinya, dia beranggapan bayinya sedang tidur. Dengan berat hati bidanpun memberikan informasi  bahwa bayinya telah meninggal di dalam kandungan.

Rasanya menyesal juga kita sebagai tenaga kesehatan, bukankah selama pemeriksaan seorang bidan dianjurkan untuk memberikan  KIE (konseling, informasi, edukasi) pada setiap ibu hamil, apalagi Ny. x harus mendapatkan perhatian yang sangat khusus yaitu dengan istilah “bayi mahal” konseling mengenai tanda bahaya ibu hamil yang salah satunya mengenai pergerakan anak selama di dalam kandungan yaitu minimal 10x dan dianjurkan ibu harus segera waspada jika merasakan dalam sehari pergerakan bayinya kurang dari 10x, terlambat sudah terlambat  Ny. x datang ketika sudah tidak merasakan lagi pergerakan bayi dalam kandungannya, dan pertanyaan bidan kenapa baru datang sekarang? Sepertinya tidak berguna lagi,  bahkan lebih menambah kekalutan hati pasangan suami istri ini.

Entah bagaimana perasaan seorang ibu yang sangat berharap dan menanti datangnya keajaiban seorang mahkluk hidup tumbuh dan berkembang dirahimnya, dari hari ke hari, bulan berganti bulan sampai datangnya hari yang sangat menyakitkan, namun sangat ditunggu, rasanya tidak ada suatu peristiwa di dunia ini yang begitu sangat menyakitkan, namun selalu membawa senyuman, dan sangat tidak masuk akal seorang ibu yang tega membuang bayinya  bahkan membunuh bayinya sendiri, dimana perasaanya, kontak batinnya salama mengandung bayinya selama 9 bulan? Ketika dia memperjuangkan kelahiran bayinya dan melihat wajah yang sangat polos tanpa dosa, dengan mudah dia membuang atau membunuhnya, wajar jika memang  dia mengalami gangguan jiwa yang sangat berat, dimana rasionalnya sudah tidak bisa dibedakan lagi dengan imajinasinya. Bahkan yang pernah saya ketahui dari discovery channel tentang sejenis laba-laba (entah dari jenis apa), laba-laba betina akan mati di setiap proses perkembangbiakannya karena ketika bayi laba-laba lahir maka bayi-bayinya akan memakan induknya sendiri, betapa binatangpun sebenarnya telah memberikan contoh yang sangat mulia bahwa seorang ibu rela memberikan nyawanya untuk kelangsungan hidup keturunannya kelak, namun apa yang terjadi pada setiap kasus aborsi oleh pasangan di luar nikah, dan kasus bayi yang dibuang bahkan dibunuh oleh orang tuanya sendiri, hanya karena rasa malu, malu pada manusia, malu karena perbuatannya sendiri, mengapa mengapa  rasa malu yang begitu besar tidak ditujukan kepada Tuhannya?

Untuk memastikan apakah telah terjadi IUFD? ku melakukan pemeriksaan ulang, cukup lama ku coba untuk mencari keajaiban yang berada di perut Ny. x, ketika kuletakan dopler untuk mendengar bunyi jantung janin, namun nihil… segera kutegakkan diagnosia untuk Ny. x GIIP0A1  38-39 mg dengan IUFD, segara kulaporkan dokter tentang keadaan Ny. x, lalu advis dari dokter jaga untuk memberikan induxy (perangsang) untuk mengeluarkan janin yang sudah tidak bernyawa itu. Pemberian perangsang itu sungguh sangat menyakitkan ditambah tekanan psikologis yang lebih memperberat penderitaanya, sering terdengar jeritan rasa sakit dan tangisan kesedihan NY. x di ruang bersalin, bahkan tidak ada yang tidak terenyuh kita sebagai seorang wanita empati terhadap perjalanan hidupnya, sebersit pertanyaan dalam hatiku, seberapa besar dosa yang dia perbuat sampai mendapatkan cobaan sebesar ini, tak ku bayangkan betapa bahagianya Ny.x diawal kehamilannya yang kedua ini setelah dia menunggu selama 15 tahun dari kehamilan pertamanya, sepertinya dia tidak pernah membayangkan bahwa kehamilan yang dia nantikan akan berakhr seperti ini. Akhirnya selama 8 jam menahan sakit proses kelahiran bayinya pun berakhir, lahirlah bayi laki-laki dengan berat 2000 gr, harus dibungkus tertutup rapat dengan kain.

“ya Alloh jangan engkau berikan hambamu ini cobaan di luar batas kemampuanku, berikan hamba mu kekuatan kesabaran dan rasa syukur yang sangat-sangat besar untuk menghadapi  wujud rasa sayangmu dari berbagai macam cobaan yang kelak engkau berikan ,amin”


catatan pengalaman seorang bidan muda…
ditulis di Kupang, 30 Oktober 2009

dipublikasikan oleh daonlontar.blogspot.com
Kupang, 15 Maret 2013 




comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;