Sabtu, 05 Januari 2013

Simpang Lima Atambua




Mengunjungi Kota Atambua, Kabupaten Belu adalah yang pertama kalinya buat saya. Atambua adalah kota perbatasan dengan Negara Timor Leste dan berjarak sekitar 289 kilometer dari Kupang dan berada di sentral Pulau Timor. Arti nama Kota Atambua diperkirakan berasal dari nama sebuah tempat berkumpul orang-orang untuk melakukan aktifitas perdagangan budak. Kemungkinan yang dijadikan budak saat itu adalah orang-orang yang dianggap memiliki ilmu sihir (suanggi), sehingga ditangkap dan dijadikan budak. Suanggi dalam bahasa Belu (Tetun) adalah “buan dan untuk budak atau hamba sahaya adalah ata”, sehingga menjadi nama atambua, yang berarti “budak atau hamba suanggi”. Masih menurut cerita bahwa budak-budak yang telah dibeli dibawa ke pantai utara, saat ini dikenal dengan nama Pelabuhan Atapupu yang berjarak 48 kilometer dari Kora Atambua. Nama Atapupu berasal dari kata “ata” untuk budak dan “pupu” (berkumpul) atau juga berasal dari kata “futu” (diikat), sehingga berarti “tempat budak berkumpul atau budak diikat”, sambil menunggu kapal untuk di bawa keluar Pulau Timor.  

Di Kota Atambua, perhatian saya tertuju pada Simpang Lima yang merupakan ikon dari Kota Atambua. Simpang Lima Atambua menjadi salah satu pusat aktivitas di Kabupaten Belu, karena disinilah terdapat beberapa unit kantor pemerintah, gedung DPRD, kompleks militer dan Gereja Katedral. Selain itu juga merupakan daerah pertokoan, rumah makan dan perhotelan/penginapan. Simpang lima merupakan persimpangan dari lima ruas jalan yang ditengahnya dibangun Tugu Pancasila setinggi ± 10 meter, yang kini menjadi monumen kebanggaan masyarakat Atambua. Di arah timur simpang lima terdapat lapangan umum yang juga biasa disebut sebagai lapangan simpang lima.



Patung Bupati Pertama Kab. Belu A. A. Bere Talo di Simpang 5 Atambua

Disinilah pernah digelar Festival Wisata Perbatasan Timoresia oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kegiatan yang merupakan ajang pertemuan kesenian antara Indonesia dan Timor Leste yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan kekeluargaan antara warga Indonesia dan Timor Leste, terutama yang bermukim di wilayah sepanjang perbatasan kedua negara serta memperkenalkan destinasi baru pariwisata di daerah perbatasan. Sejumlah agenda yang digelar seperti pergelaran musik dan kesenian, bazar barang kerajinan, pameran hingga pacuan kuda.

Toko Simpang Lima Atambua http://www.panoramio.com

Simpang Lima telah banyak menjadi ikon kota-kota kabupaten di nusantara, seperti Simpang Lima Purwodadi, Simpang Lima Banyuwangi, Simpang Lima Tasikmalaya, Simpang Lima Indramayu, Simpang Lima Kediri dan lain-lain. Begitupun juga terdapat simpang lima yang terletak di ibu kota provinsi seperti Simpang Lima Aceh, Simpang Lima Semarang dan Simpang Lima Gorontalo.

Simpang lima menjadi landmark kota-kota yang memiliki lima ruas jalan yang saling bertemu dalam satu titik. Karakteristik ini yang dapat membantu penduduk maupun turis untuk mengorientasikan diri di dalam ruang kota, sehingga oleh beberapa kota dibangun penanda yang unik bahkan terbilang mewah, sebut saja alun-alun di Semarang, tugu jam gadang di Gorontalo, monumen gumul yang mirip arch dtriomphe Perancis di Kediri dan tugu dengan ornamen khas budaya di Banda Aceh. Ikon kota tersebut telah dikembangkan menjadi destinasi wisata dengan ajang olah raga, rekreasi, perbelanjaan dan kuliner. Selain itu dikembangkan pula dengan area pendukung berupa pusat informasi pariwisata, perhotelan, mall, pertokoan, etalase produk unggulan dan cendramata.

Simpang Lima Banda Aceh http://www.panoramio.com


Simpang Lima Semarang http://scienceker.blogspot.com


Simpang Lima Kediri http://www.kedirikab.go.id

Sebagaimana Simpang Lima Atambua yang biasa juga disebut sebagai pusat kota, juga demikian halnya dengan alun-alun sebagai landmark kota Semarang. Persamaannya adalah ketika Simpang Lima Atambua dibangun Tugu Pancasila sebagai representasi angka lima, ideologi dasar negara dan juga sebagai simbol pengukuhan kabupaten terdepan dan perbatasan Indonesia. Sementara itu di Semarang alun-alunnya dinamakan juga Lapangan Pancasila sebagai representasi angka lima dari simpang lima di Semarang dan dasar ideologi negara. Sayangnya Simpang Lima Atambua belum dikembangkan secara maksimal seperti kota lainnya yang berhasil mengelola simpang limanya, dan juga belum ditata secara baik karena masih terlihat kabel-kabel yang bersileweran menghalangi keindahan tugu pancasila di tanah perbatasan! (*)



Kupang, 5 Januari 2013

©daonlontar.blogspot.com



comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;