Selasa, 29 Januari 2013

Baruga Cokelat Makassar




Cokelat telah menjadi ikon Sulawesi Selatan, mengingat hasil pertanian ini menyumbang pendapatan yang besar buat Sul-Sel, bahkan potensial dalam menyumbang devisa negara, dikarenakan 60-70% ekspor kakao nasional berasal dari Sulsel. Sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah kakao bagi masyarakat, saat ini telah dikembangkan industri kakao hilir yaitu membuat produk jadi dari bahan kakao yang semula hanya berbentuk biji dan cocoa butter menjadi produk coklat kemasan. 

Bagian dari usaha pemerintah provinsi meningkatkan nilai tambah kakao Sulsel adalah dengan diresmikannya pusat coklat Baruga Cokelat Makassar pada Bulan Oktober 2012 lalu, yang merupakan hasil kerjasama dengan PT. Ceres sebagai pabrik cokelat pemegang brand Silverqueen, Delfi, dan Ceres. Baruga Coklat ini berlokasi di Monumen Mandala, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar. Selain menjadi landmark baru bagi Sul-Sel sebagai penghasil kakao terbesar di Indonesia, tempat ini juga bisa menjadi tempat mejeng sambil menikmati hot chocolate bagi para penggemar cokelat atau bagi yang berminat tentang cokelat bisa berkunjung ke Baruga Cokelat ini. Kabarnya Baruga Coklat sebagai pusat penjualan cokelat ini mirip dengan Cocoa Boutique atau Butik Kakao yang ada di Kota Kuala Lumpur, Malaysia yang menjual khusus produksi coklat dalam negeri Malaysia.









Kini Baruga Cokelat menjadi destinasi baru bagi para wisatawan baik dalam maupun luar negeri, dan juga menjadi tempat belajar yang menarik bagi para siswa, karena di Baruga Coklat ini menyediakan ornamen papan informasi seputar hal yang berkaitan dengan cokelat mulai dari sejarah penemuan cokelat pertama kali, kapan cokelat didatangkan ke Indonesia, hingga produksi kakao di Sul-Sel. Singkatnya baruga cokelat atau juga biasa disebut dengan rumah cokelat ini didirikan untuk memberikan edukasi bagi masyarakat, selain itu juga disediakan berbagai produk hasil olahan dari kakao dan juga oleh-oleh cokelat khas Makassar. 






Terlihat dua model produk lokal yang dipajang yaitu coklat dengan label Makassar dan Toraja South Sulawesi. Uniknya produk cokelat ini dikemas dengan sentuhan budaya lokal seperti untuk Coklat Makassar, bentuk kotak kemasan dengan list yang menyerupai sarung Bugis dengan logo perahu phinisi khas Makassar disertai dengan narasi singkatnya, selain itu dibagian belakangnya juga terdapat narasi tentang perkembangan Kota Makassar masa lalu hingga saat ini, kedua narasi tersebut dalam Bahasa Inggris. Demikian juga dengan Cokelat Toraja South Sulawesi dengan ciri bangunan rumah adat tongkonannya. Kemasan produk juga menyajikan aspek lain pariwisata di Sulawesi Selatan. Sayangnya produk-produk ini sepertinya tidak dibuat di Makassar, namun diproduksi di Bandung oleh PT. Ceres Indonesia. Kemudian saya juga mencari cokelat Makassar yang diproduksi asli dari Kota Makassar, seperti yang terdapat di kawasan sentral oleh-oleh Jalan Somba Opu Makassar. Dua merek yang saya temukan yaitu produk Coklat Daeng Coklat Tiramisu produksi mc mycoklat2u.com Makassar dan Coklat Loosari produksi Alam Hijau Sejahtera Makassar.

  


Oleh-oleh Cokelat Makassar yang dipajang di salah satu toko di Somba Opu

Dari catatan ini, setidaknya memberikan peluang bagi setiap daerah untuk membuat semacam center of best commodity atau pusat produk unggulan yang bisa berdampak pada usaha-usaha pengembangan, peningkatan mutu, ajang promosi dan sekaligus sebagai destinasi wisata baru bagi daerahnya. (*)
  
Catatan dari Makassar!
Kupang, 29 Januari 2013 
©daonlontar.blogspot.com

  
comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;