Kamis, 31 Januari 2013

31 Januari dan Ratu Belanda




Tujuh puluh lima tahun yang lalu, di Istana Soestdijk Baarn-Belanda pada 31 Januari 1938, lahir Beatrix Wilhelmina Armgard atau yang lebih dikenal dengan Ratu Beatrix saja, yang adalah putri pertama dari Ratu Juliana. Di tahun 1980, Ketika Ratu Juliana turun tahta, Beatrix diangkat menjadi Ratu Belanda yang berkuasa hingga kini.  

Ratu Beatrix sendiri telah memegang gelar sepanjang hidupnya, sebagai cucu dari Ratu Belanda Wilhelmina, putri Ratu Juliana dan kemudian akhirnya sebagai Penguasa. Gelar resmi Ratu Beatrix adalah Yang Mulia Beatrix, dengan Karunia Tuhan, Ratu Belanda, Putri Oranye-Nassau. Setelah 33 tahun berkuasa, rencananya pada akhir April 2013 nanti, ia akan menyerahkan tahta kepada putranya, Pangeran Willem-Alexander. Pengunduran diri ini berarti akan mengakhiri masa tahta Pemerintahan Belanda oleh perempuan selama lebih dari 100 tahun.

Banyak sejarah yang diukir pada tanggal 31 Januari, jika kita iseng melihat barisan data sejarah di wikipedia, maka ada rentetan panjang kejadian dan peristiwa yang terukir pada momen tanggal 31 Januari, mulai dari abad ke-IV hingga kini. Kisah itu menjadi catatan yang tak akan terhapuskan atau bahkan terlupakan. 31 Januari, tujuh puluh lima tahun yang lalu di masa penjajahan Belanda, kakek nenek kita juga merayakan pasar malam di nusantara dalam menyambut kelahiran calon Ratu Belanda Beatrix. Seseorang yang kemudian sangat berpengaruh dalam Pemerintahan Belanda.

Kini tujuh puluh lima tahun berlalu, di saat Ratu Belanda Beatrix merayakan ulang tahunnya. Dan kini bagaimana jika kita berada pada tanggal 31 januari 2050, sejarah saat inilah yang akan terbaca saat nanti! (*)


Kupang, 31 Januari 2013 
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;