Senin, 10 Desember 2012

Menikmati Konro Kuda!



Konro kuda (abufarhat)
Suatu kesempatan bisa bertandang bersama tim ke Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan. Sebuah kabupaten di Sulsel yang sepintas iklimnya menyerupai kondisi umum di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yaitu gersang dan terlihat kurang sekali vegetasi yang tumbuh di daerah ini dan yang kebanyakan terlihat adalah Pohon Lontar. Namun ada hal yang menarik dan sepertinya telah menjadi kebiasaan pemerintah daerah setempat untuk menjamu para tamu dari daerah lain, adalah dengan membawa rombongan kami untuk mencicipi kuliner khas di Jeneponto yaitu Konro dan Coto Kuda!. Kontan hal ini disambut oleh rombongan kami yang sebagian besar dari NTT dan memang belum pernah sama sekali menikmati hidangan spesial daging kuda.

Coto dan sop konro memang telah menjadi masakan khas di Makassar dengan bahan utama yang biasa digunakan adalah daging sapi atau daging kerbau. Coto Makassar menggunakan daging dengan jeroan, usus, otak, jantung dan hati, dengan kekuatan rasa berasal dari kaldu rempah yang digunakan seperti serai, lengkuas, ketumbar, jinten, bawang merah, bawang putih, garam, daun salam, jeruk nipis, dan halusan kacang tanah goreng. Coto Makassar hanya tepat jika dimakan dengan ketupat. Sedangkan sop konro berbahan tulang rusuk dengan rempah yang digunakan seperti kayu manis, cengkeh, daun salam, lengkuas, asam jawa, ketumbar, serai, jinten, keluwak, bawang merah, bawang putih, dan perasan jeruk nipis. Sehingga menyajikan aroma khas yang keluar dari rempah membuat nikmat dan gurih. Tidak demikian dengan coto yang memakai ketupat, konro hanya enak dinikmati jika disajikan bersama nasi putih. Bagaimana jika bahan dasar kedua masakan berselera nusantara ini berasal dari daging kuda. Nah di Jenepontolah tempat yang tepat menikmati coto dan sop konro kuda. Kabupaten Jeneponto berada di bagian tenggara Kota Makassar yang berjarak ± 91 kilometer

Coto Kuda

Daging kuda bagi masyarakat Jeneponto dipercaya dapat meningkatkan stamina dan vitalitas, khususnya bagi laki-laki dewasa. Tak heran bagian yang paling dicari adalah alat kelamin kuda jantan. Selain itu daging kuda, juga dipercaya mengandung zat anti tetanus dan berkhasiat mencegah penyakit gula. Konon hidangan coto kuda hanya disiapkan khusus untuk para bangsawan dan tamu istana Kerajaan Jeneponto di masa lalu. Namun kini telah menjadi kuliner yang memasyarakat dan juga bisa dinikmati oleh setiap tamu yang berkunjung ke Jeneponto. 

daftar menu dgn latar kuda hitam jingkrak
 Ada hal yang menarik lagi dari cerita di atas, bahwa konsumsi daging kuda yang cukup tinggi di daerah ini mengakibatkan tingginya permintaan kuda hidup di Jeneponto. Walaupun Jeneponto memiliki banyak padang sabana untuk pengembangbiakan kuda, namun kebutuhan kuda masih banyak didatangkan dari daerah lain. Informasi yang diperoleh bahwa kebutuhan kuda untuk bahan kulinar khas di daerah ini juga didatangkan dari Timor dan Flores. Bukan hanya kuda, kabarnya garam mentah yang diproduksi di pesisir Flores juga didatangkan ke Jeneponto yang merupakan sentra pengelolaan garam, untuk kemudian diolah kembali lalu di supply lagi untuk memenuhi kebutuhan garam di wilayah Indonesia Timur. Jadi kesimpulannya adalah rombongan dari NTT datang menikmati kuliner khas coto dan konro kuda di Jeneponto yang bahan dasarnya berupa daging dan garam, ternyata berasal dari NTT, hah!. Kabarnya lagi, akibat perdagangan kuda yang berkembang dengan Jeneponto berdampak pada meningkatnya harga kuda di Flores yang secara kultural mengakibatkan naiknya belis (mas kawin) di Flores!.

rombongan NTT di Jeneponto SulSel

Kegemaran masyarakat Jeneponto terhadap kuda memunculkan streotipe bahwa masyarakat di daerah ini cenderung keras dan tempramen, namun sebenarnya tidak hanya karena faktor konsumsi daging, tetapi juga kondisi alamnya yang cukup ekstrim membuat masyarakatnya untuk lebih survive. Setelah menikmati coto dan konro kuda rombongan kami kembali ke bus, namun tiba-tiba terdengar seorang teman yang mulai meringkik, menandakan bahwa dirinya telah merasakan efek vitalitas dari daging kuda, entahlah! (*)

Jeneponto, 10  Desember 2012
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;