Minggu, 16 Desember 2012

Halaman Rawa Tamalanrea




Adalah suatu jalan membuka ingatan masa lalu, ketika bisa kembali datang melihat-lihat rumah kos atau biasa kami menyebutnya pondokon, tempat tinggal semasa kuliah di Tamalanrea Makassar. Kenangan panjang yang tergurat dalam masa pencarian pendidikan yang selalu membekas dalam dinding kayu, rumah panggung dan halaman rawa. Hal itu terukir sebagai mozaik pengalaman dengan balutan suka dan duka, harapan dan tantangan hingga ikhtiar dan realitas yang kesemuanya berakhir dengan semangat bersahaja sebagai mahasiswa di rantau. 
 
Sekelumit cerita datang dari hamparan rawa-rawa di sekitar pelataran rumah pondokan. Daerah dataran rendah langganan banjir di setiap musim penghujan, maklum sebelah barat wilayah adalah pinggiran laut dan merupakan daerah rawa-rawa yang oleh perkembangan penduduk kota dijadikan permukiman yang semakin hari semakin padat. 

Saya masih mengingat bagaimana rasanya banjir, ketika harus keluar rumah pondokan dengan menggulung celana selutut hingga ke jalan umum yang lebih tinggi untuk bisa menggunakan sepatu kemudian ke kampus dan demikian juga pulangnya. Karena rawan banjir, sebenarnya penduduk telah mengantisipasi dengan membangun rumah panggung khas rumah bugis dengan dua lantai, sehingga bila hujan turun terus menerus maka yang tinggal di lantai dasar dapat menggungsi dan memindahkan barangnya ke lantai atas. Dan lucunya di saat kita berbaring tidur, kita bisa merasakan riak aliran genangan air di lantai dasar dan halaman yang terendam banjir. Banjir kadang tak surut-surut jika hujan terus mengguyur, yah namanya daerah rawa-rawa dataran rendah tempat air mengenang, bahkan daerah ini mudah untuk membuat danau buatan seperti danau buatan di kampus Unhas yang hanya berjarak sekitar 300 meter.

Kemudian saya sejenak mengingat apa yang pernah ditulis Alfred Russel Wallace dalam bukunya Kepulauan Nusantara, Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Ketika berada di Makassar, ia sempat mendengarkan “konser” yang tak pernah didengarkannya sebelumnya. Ia mengungkapkan bagaimana tanah kering di sekitar rumahnya, yang pada musim penghujan telah berubah menjadi rawa yang kemudian dihuni oleh kodok-kodok yang mengeluarkan suara riuh rendah berkuak-kuak, sangat menyebalkan baginya karena terdengar sepanjang senja hingga pagi hari. Suara mereka terdengar agak bernada, memiliki getaran vibrasi yang kadang menyerupai alat musik bass dalam sebuah orkestra. Dan masih menurutnya bahwa dari Malacca (Semenanjung Melayu) hingga Borneo (Kalimantan), Ia tidak pernah mendengar suara semacam itu. Sehingga ia berani mengambil kesimpulan bahwa jenis kodok yang ia dengar suaranya adalah hewan Celebes yang merupakan spesies dengan ciri khas. Itulah kenangan Wallace yang di tahun 1856 pernah merasakan tinggal di Makassar. Namun benarkah suara kodok ini hanya ditemukan di Makassar saja, karena bagi saya masih banyak tempat yang menghasilkan kodok dengan suara yang unik tersebut, hanya mungkin Wallace belum menemukannya saja!

Di puncak musim kemarau sebahagian rawa-rawa tersebut berubah menjadi tanah yang kering, namun ketika tiba musim penghujan cepat kembali berubah rawa-rawa dan menjadi tempat tumbuh subur kangkung liar dan enceng gondok. Tak jarang juga terlihat anak-anak yang berendam dalam rawa-rawa sambil menenteng keranjang plastik untuk mencari ikan cupang, ikan yang dijadikan ikan aduan. Kadang ketika puncaknya musim penghujan banyak ditemukan sejumlah ikan air tawar yang terkapar-kapar di jalan-jalan aspal membelah permukiman. Juga sering terlihat biawak rawa sebesar paha orang dewasa, kehadirannya bisa terasa dari rerumputan yang bergoyang aneh. Rawa-rawa menjadi tempat genangan air buangan dari semua aktivitas manusia yang bermukim di situ. Sumur tidak menghasilkan air yang bersih karena terasa payau bahkan berbau busuk. Ketika banjir maka segala genangan air tersebut meluap dan tentunya membuat mereka yang berada di lantai dasar memiliki pekerjaan tambahan.

Ketika musim penghujan berakhir dan kemudian memasuki puncak kemarau, bekas rawa-rawa dipenuhi rerumputan yang mulai menguning dan mengering seolah menghilangkan jejak semua aneka spesies yang hanya muncul di musim penghujan. Bahkan halaman kadang terbakar karena rumput kering atau juga dijadikan lapangan bulutangkis atau lainnya. Namun ketika waktu berputar, musim terus berganti dan spesies rawa kembali muncul sebagai sebuah permainan alam yang mengesankan!.

Kini permukiman Tamalanrea semakin berkembang dan tanah dataran semakin ditinggikan, kemudian rumah pondokan yang baru sudah dibangun permanen dengan beton. Sehingga kenangan masa lalu serasa tenggelam dengan pertumbuhan daerah ini. Dari halaman rawa ini di masa lalu, tak jarang telah tercetak generasi yang sukses di masa kini dan telah berkelana hingga ke berbagai negeri, yang kadang pernah menuliskan sedikit puisi dan esai-esei di masa mahasiswa dan lalu membubuhkan diakhir setiap tulisan dengan kalimat halaman rawa tanggal sekian! Itulah sepenggal kenangan tinggal di halaman rawa Tamalanrea!

Makassar, 16 Desember 2012
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;