Rabu, 28 November 2012

Perempuan yang mencintai pantai



Ilustrasi

Seorang perempuan yang mencintai pantai, begitu menanti saat di mana ia bisa diperhadapkan dengan lautan, bersua dengan alam. Ia akan datang seolah pantai menyambutnya dan mengabaikan bahwa ia sesungguhnya menyambut pantai. Sambil tersenyum dengan menghirup aroma laut dan merasakan angin laut yang sepoi menerpa serta mendengar deburan ombak yang menghempas pantai. Waktu terbaik untuk mencari ketenangan.

Pantai di kala tenang memberikan pemandangan lautan yang menggoda, memperlihatkan suatu garis horizontal yang membedakan keindahan biru langit dan biru laut. Namun pantai bisa menjadi sesuatu yang kelam, kala lautan untuk sementara tak bersahabat menahan amarah alam. Lautan misterius yang menyimpan rahasia berlampau waktu yang lalu, menampung airmata alam dan manusia. Hal yang membuat batin menjadikan tempat untuk merenung dan untuk meluapkan semua masalah dan berharap menemukan ketenangan, seolah lautan telah menerima keluh kesahnya. Perempuan yang menatap dalam-dalam lekuk pantai, menerawang cakrawala nun jauh, meresapi setiap gelombang halus berbuih ombak dan menghayati suara deburan ombak dengan bibir yang membiru, ungu. Membuat pantai menjadi sahabat cinta yang memberi bahagia, yang bisa menenangkan hati seolah menatap cermin yang merasakan apa yang di rasakan lautan kala menatapnya sendiri.

Pantai indah kelak menjadi sebuah metafora, karena kita memang berada di perbatasan antara daratan dan laut, antara mimpi dan kenyataan dan antara harapan dan realitas. Pantai telah menyita perasaan perempuan, dan begitulah keterpesonaan perempuan terhadap lautan seakan menemukan dunianya sendiri. Tak lupa menghaturkan terima kasih atas dunia itu, dunia yang tak dapat dipenjarakan dalam materi. Pantai menjadi monumen mengenang masa yang telah ditelan waktu.

Ketika cahaya matahari berlahan mulai memudar karena langit malam mau menyelimuti bumi. Sebagian bulan telah nampak di atas langit, terlihat rona kemerahan di sisi-sisi pantai mengukir jejak sang matahari. Akhirnya waktu untuk beranjak dari pantai setelah mengantarkan matahari pulang. Perempuan meninggalkan pantai dengan suasana batin yang begitu tenang.

Pantai dan perempuan, mempertemukan dua keindahan alam dan manusia!


Full moon night
Makassar, 28 November 2012
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;