Selasa, 06 November 2012

Meninggal Dunia!



Hari ini ada tetangga yang meninggal dunia. Orang-orang pada ramai membicarakan kematian seseorang yang memang dianggap mudah bergaul di kelurahan kami. Kematiannya yang mendadak di usia setengah baya, menjadi salah satu bahan pembicaraan di mana-mana. Memang kabar meninggal dunianya seseorang secara mendadak adalah sebuah berita yang berbeda jika dibandingkan dengan orang yang meninggal karena sakit. Entah kematian itu memang misteri, apakah matinya seseorang karena sakit, dibunuh, kecelakaan, bencana atau hal-hal sepele yang dapat membuat seseorang kehilangan nyawa. Bahwa hal tersebut kelak akan terkuak disuatu saat nanti bagi setiap insan bernyawa.

Bagaimana seandainya saya atau kita yang meninggal. Di saat amal-amal kita hanya bisa dihitung dengan jari, di saat ibadah-ibadah kita banyak yang terbengkalai. Sementara itu pekerjaan duniawi masih menggunung, masih disesaki dengan berbagai rencana-rencana. Dan akhirnya rencana tinggal rencana karena semuanya telah berakhir. Saya masih mengingat di malam-malam ramadhan, ceramah yang disampaikan oleh khatib bahwa ibadah ramadhan semutlaknya dilaksanakan sesungguhnya karena mungkin ini adalah ramadhan terakhir yang kita temui, karena suatu saat akan ada di antara kita yang mungkin tidak lagi diberi kesempatan untuk bersua di ramdahan yang akan datang. Dan benar saudara kita seiman telah berpulang lebih awal ke Rahmatullah.

Saya juga mengingat puisi Taufik Ismail tentang sajadah panjang” yang dipopulerkan dalam lagu oleh Grup Bimbo. Dalam puisinya kehidupan ibarat sajadah panjang  yang terbentang dari kaki buaian sampai ke tepi kuburan, yang berarti hidup sesungguhnya adalah ibadah terus menerus kepada Allah SWT. Hidup seseorang suatu saat akan berakhir ketika menemukan sampai di mana batas sajadah yang telah ditentukan itu, entah dengan sajadah yang panjang atau hanya sejadah yang pendek. Memang harus disadari dalam hidup ini kita lebih terjebak pada urusan keduniaan yang dikatakan oleh Taufik Ismail sebagai “interupsi”. (*)


 Selamat Jalan Paman Jumma!
Kupang, 06 November 2012
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;