Minggu, 18 November 2012

Mengunjungi Penerbit Ininnawa Makassar




Suatu kesempatan akhirnya tiba yaitu kembali mengunjungi Kota Makassar, karena hampir lima tahun lamanya tidak melihat rupa Makassar. Beberapa saat setibanya di penginapan, saya langsung meluncur ke alamat Rumah Penerbit Ininnawa yang berada di Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E Makassar. Penerbit Ininnawa merupakan salah satu penerbit lokal di Kota Makassar yang menghadirkan buku bacaan bertemakan tentang Sulawesi Selatan. Buku terbitan lokal dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan tentang kebudayaan sendiri yang sedikit terabaikan dalam modernisme kebudayaan global. 

Buku-buku yang diterbitkan adalah karya asli penulis lokal maupun karya terjemahan dari penulis dan peneliti asing, selain itu penerbit ini juga mendukung penerbitan karya penulis potensial dari Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Penerbit Ininnawa mencoba memadukan penelitian dalam bentuk literatur hasil kerja peneliti asing dengan literatur peneliti lokal, sehingga dapat melihat sebuah kebudayaan dalam posisi netral dengan sisi subjektivitas masing-masing. Selain itu merupakan bagian dari usaha untuk mengembalikan hasil penelitian para penulis dan peneliti asing ke ranah pembaca masyarakat di Sulawesi Selatan. Karena umumnya hasil penelitian oleh pihak asing hanya berakhir dalam bentuk jurnal ilmiah yang terlalu akademis dan terbit dalam bahasa asing di luar negeri. 


Rumah penerbitan yang dijadikan sebagai agensi, toko buku dan café baca ini semula digagas oleh Komunitas Ininnawa sejak 12 tahun lalu, melalui kegiatan intelektual menerjemahkan naskah penelitian bertemakan sosial-budaya dan menerbitkannya dalam bentuk buku yang kemudian menjadi literatur penting bagi kebudayaan masyarakat di jazirah Sulawesi Selatan. Komunitas ini dianggap sebagai riak gerakan kultural dalam arus deras kebudayaan global yang mendunia dengan mengedepankan aspek kearifan lokal dalam konteks kebudayaan jazirah Selatan Sulawesi.  Kata Ininnawa sendiri sebagai nama komunitas berasal dari bahasa lokal yang artinya harapan dan cita-cita.


Selain sebagai penerbit, Rumah Penerbit Ininnawa juga merupakan markas Kampung Buku. Sebelumnya komunitas Ininnawa juga pernah terkenal dengan kafe baca Biblioholic-nya di sekitar tahun 2004 lalu. Kampung Buku adalah perpustakaan berbasis masyarakat yang menyediakan bermacam koleksi buku dalam rangka mendukung minat baca masyarakat serta membagi dan mengembangkan ilmu pengetahuan di Kota Makassar.

Saat ini Penerbit Ininnawa telah menerbitkan puluhan buku bertemakan sejarah, sosial, antropologi dan kebudayaan. Saya telah memiliki beberapa buku terbitan Ininnawa sebelumnya dan untuk menambah koleksi saya membeli buku langsung ke penerbit. Di antara buku-buku tema lokal yang saya beli adalah Kuasa dan Usaha di Masyarakat Sulawesi Selatan, Ed. Roger Tol, Kees van Dijk, Greg Acciaioli, 2009; Diaspora Bugis di Dalam Melayu Nusantara, Ed. Andi Faisal Bakti, 2010; Identitas dalam Kekuasaan, Imam Mujahidin Fahmid, 2012; Syair Perang Mengkasar, Sebuah reportase sastrawi bergaya Melayu dari juru tulis Sultan Hasanuddin tentang kejatuhan salah satu kerajaan terbesar di abad XVII, Enci’ Amin, Ed. C. Skinner, 2008; Kekuasaan Raja, Syeikh, dan Ambtenaar: Pengetahuan Simbolik dan Kekuasaan Tradisional Makassar 1300- 2000, Thomas Gibson, 2009; Narasi Islam dan Otoritas di Asia tenggara dari Abad ke-16 hingga Abad ke-20, Thomas Gibson, 2012; dan Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis, Muhlis Hadrawi, 2010.

Ternyata buku yang disebutkan paling terakhir adalah yang paling laris, entah khalayak yang penasaran karena membahas hal yang tabu atau karena memang minat masyarakat yang menyukai hal-hal yang berbau seks. Buku pembelajaran seksual dengan label khusus dewasa ini diterbitkan pertama kali Desember 2008, hingga kini masih mudah ditemukan dan selalu terpajang di rak-rak toko buku se Makassar dan tentunya telah mengalami beberapa kali naik cetak. Buku ini merupakan hasil kajian filologi naskah kuno Bugis dalam kitab Lontara’ yang membahas tentang seks, sebagai sebuah warisan leluhur yang menempatkan keunggulan kebudayaan Bugis di nusantara. Bahkan isi buku Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis ini disebut-sebut menandingi kitab Kamasutra yang telah dikenal dunia sebelumnya sebagai kitab persetubuhan yang berasal dari kebudayaan India. (*)


Makassar, 18 November 2012
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;