Selasa, 29 Mei 2012

Perempuan dengan tatapan hampa


photo: www.1st-art-gallery.com
Tanpa sengaja saya menemukan lukisan potret seorang perempuan cantik yang berjudul “Study for The Lady Clare”, karya pelukis aliran klasik asal Eropa, John William Waterhouse (1849-1917). Lukisan tentang kecantikan yang tiada bandingnya, bahkan menurut saya jauh lebih anggun dari “Mona Lisa” karya Leonardo da Vinci yang dilukis pada abad ke-16, yang telah menjadi Karya paling terkenal di dunia dan berada di Museum Louvre Paris, Prancis. Kekaguman saya pada lukisan ini lebih pada sebuah ekspresi dasar perasaan, atau ada yang menyebutnya dengan sebuah “pedalaman jiwa”, entahlah!. Saya bukan bermaksud membanding-bandingkan kedua karya ini dari sisi ekspresi enigmatik yang misterius.

Sejurus kemudian saya lebih memahami lukisan ini sebagai gambaran seorang tokoh dalam roman terkenal Pramodya Ananta Toer, Bumi Manusia (salah satu bagian dari tetralogi Buru). Adalah Annelies Mallema dengan panggilan Ann, sebagai seorang indo atau peranakan Belanda-Jawa yang memiliki rambut dan mata pribumi dan selebihnya adalah Eropa. Tatapan matanya bagai bintang kejora dengan bibir yang sensual. Rambutnya disanggul sehingga menampakan garis leher yang jenjang. 

Dalam roman tersebut ia bertemu dengan tokoh lainnya bernama Mingke, seorang pelajar pribumi terdidik dari Hogere Burger School (HBS), sekolah lanjutan tingkat menengah pada zaman Hindia Belanda kala itu. Keduanya tanpa menenggelamkan perasaan masing-masing, akhirnya saling mencintai dan memiliki. Mingke sangat mencintai dara yang cantik menawan hingga tak habis kata bagi Mingke untuk memuji Annelies Mallema, kecantikan yang dimilikinya bisa saja menyulut terjadinya perang.  

Memang Ann adalah sosok sungguh rupawan dan ramah. Namun ia memiliki kepribadian yang manja karena dalam kungkungan kesepian dan sebelum bertemu dengan Mingke, tak ada lelaki yang berani mendekatinya apalagi untuk melamarnya. Ann adalah perempuan yang bertumbuh menjadi wajar dengan kecerdasannya, sayang mentalnya bagai bocah perempuan mungil sepuluhtahunan. Bahkan sewaktu bertemu anak kecil maka ia akan beryanyi seolah berada di masa kanak-kanaknya. Hidup Ann berkubang dengan kekayaan, namun ia tidak menikmati masa kecilnya karena seolah terpaksa bertanggungjawab melalui pekerjaan terhadap perusaahaan milik keluarganya. Kecantikannya yang kemudian pada akhirnya padam, karena permasalahan pelik yang diurai dalam klimaks kelanjutan novel tersebut.

Betapa hebat pengarang mendeskripsikan kecantikan Annelies Mallema, apalagi kemudian bermuara pada sebuah lukisan. Hingga sempat saya berandai-andai bahwa lukisan karya John William Waterhouse inilah yang dimaksudkan Pramodya, menjadi imajinasi, inspirasi dan ide dalam romannya, inilah lukisan potret yang seolah telah dilukiskan oleh sahabatnya Jean Marais, yang kemudian tersimpan dan akan dipajang di ruang tamu kelak. Apalagi periode dalam roman sama dengan masa lukisan tersebut dibuat oleh pelukis sesungguhnya. Memang perempuan yang menghadirkan tatapan hampa, selalu memberikan misteri yang terkandung didalamnya. Sebuah tatapan nanar yang kosong pada sebuah ruang tanpa khayal dengan langit-langit tanpa tersentuh.(*)

Kupang, 29 Mei  2012
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;