Minggu, 06 Mei 2012

Blau Cuci, sebuah kisah masa lalu!


Melihat benda yang satu ini menghantarkan saya ke sebuah masa lalu, entah kenapa benda ini mengungkapkan kenangan di masa sekolah. Blau adalah bahan yang digunakan dalam proses akhir mencuci pakaian berwarna putih agar terlihat lebih cerah dan cemerlang. Nama blau sendiri berasal dari Bahasa Belanda blaw yang berarti biru, jadi mungkin saja produk pertama berasal dari negeri kincir angin tersebut. Ada dua jenis bentuk blau yaitu berbentuk blok dan berbentuk bubuk. Kalau di Kota Kupang lebih femilier dengan bentuk blok kecil seperti yang terlihat pada gambar. Cara menggunakan blau cukup mudah, blau seperti halnya pengharum digunakan pada bilasan terakhir, namun tidak untuk direndam. Berbeda dengan seharusnya banyak yang merendamnya sehingga baju yang putih akan terlihat sangat kebiruan.

Di masa Sekolah Dasar, ibu saya pernah menggunakan blau dengan alasan baju seragam sekolah saya selalu penuh noda dan kotor. Sehingga alasan ibu-ibu menggunakan blau di masa itu, sebenarnya untuk menjaga agar seragam tidak terlihat bekas nodanya, maklum anak kelas 1 dan 2 SD akrab dengan debu dan noda. Alasan lainnya, seragam dapat dipakai dalam jangka waktu yang lebih lama dengan menutup bekas-bekas noda. Hingga SMP saya sempat mengingat ada teman yang menggunakan seragam putih yang sangat kebiruan bersanding dengan celana biru yang ia kenakan, berarti ibunya telah merendam dengan blau yang cukup banyak. Untuk seragam sekolah di masa itu, juga berkembang style untuk membuat lipatan-lipatan bekas setrika pada baju seragam.

Satu hal menarik dari blau adalah digunakan untuk mengobati penyakit Boff (sebutan orang Kupang yang diambil dari Bahasa Belanda: Bof) atau di Jawa dikenal dengan penyakit Gondongan (Parotitis Epidemica). Semacam penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virus menular pada kelenjar liur yang memberikan efek nyeri. Saya masih mengingat seorang teman yang hampir selalu terkena penyakit jenis ini dengan pembengkakkan jaringan di bagian leher atas dekat telinga. Jika ia terkena penyakit tersebut maka penampilannya akan berbeda dengan sebagian wajah berwarna biru, karena dioles dengan blau yang telah dicampur dengan cuka untuk mendapatkan efek panas. Memang blau dipercaya berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit Boff. Namun timbul pertanyaan apakah blau dapat menghilangkan Parotitis Epidemica, karena belum ada tinjauan ilmiah dan cara medis yang membenarkan blau dapat mengobati penyakit semacam itu.

Konon kabarnya sejak dulu, penggunaan blau untuk mengobati penyakit Boff hanyalah akal-akalan orang tua agar si anak malu bermain keluar rumah dengan wajah berbedak biru atau akan menjadi ejekan teman-temannya. Dimaksudkan agar sang anak lebih banyak beristirahat di rumah. Karena sesungguhnya Boff adalah jenis penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya tanpa perlu diobati (self limiting disease). Nah ini berarti dengan istirahat yang cukup, memakan makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, maka penyakit boff akan berkurang setelah satu minggu dan sembuh setelah dua minggu. Jadi secara klinis beristirahat dapat memberikan kesembuhan dibandingkan menggunakan blau.

Blau punya masa kejayaan di komplementer industri sandang, untuk memenuhi kebutuhan manusia akan penampilan dan kebersihan. Sebelum akhirnya datanglah produk sejenis Bayclin (pemutih) untuk memutihkan seragam putih yang warnanya mulai memudar dan juga produk sabun cuci lainnya yang lebih mengekspos hasil putih yang lebih cemerlang, tentu sangat kontra dengan khasiat blau untuk membuat seragam putih lebih cerah dengan menutup warna putihnya. Saat ini blau masih beredar dengan beberapa merek dari industri rumahan di Jawa. Blau sudah jarang digunakan, kalau boleh dikatakan tidak ada lagi yang berminat menggunakannya di perkotaan, mungkin hanya ibu-ibu di perdesaan yang masih setia menggunakannya. Namun demikian masih ada sejumlah toko dan kios yang masih memperdagangkannya, mungkin hingga menunggu saat blau menghilang dari rak-rak toko dan kios.

Pakaian telah menumpuk, saatnya mencuci!
Kupang - Minggu, 06 Mei 2012
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;